Sejarah Singkat SID

SID didirikan pada Desember 2019 dan diresmikan oleh Menteri Desa PDTT, pada 5 Januari 2020 di Yogyakarta bersamaan dengan program pelaƟhan angkatan pertama SID yang diikuƟ oleh 22 pemuda desa dari 10 provinsi di Indonesia. Lembaga ini merupakan inisiaƟf komunitas pegiat pembangunan desa di bawah binaan Pemerintah Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, guna menjawab permintaan berbagai pihak (lokal, nasional, hingga internasional) yang selama ini telah melakukan aneka kunjungan dan studi banding di Desa Panggungharjo.

SID: Membangun Knowledge Manajemen Sektor Desa

Menghimpun pengetahuan dari pengalaman berkarya puluhan tahun bukanlah sesuatu yang mudah. Dalam beberapa hal kita terbiasa untuk mengabaikan pola dokumentasi pengalaman dan dokumentasi gagasan. Padahal pengetahuan dihimpun dan dikembangkan dari pengalaman. Dengan dokumentasi gagasan dan pengalaman, pengetahuan bisa dijaga dan dikembangkan. Sekali lagi cara menjaga pengalaman keseharian adalah dengan mengumpulkan, menyimpan, memilah, dan mengolah pengalaman menjadi bacaan sebagai bahan berpengetahuan. Tetapi, menumbuhkan budaya baca-tulis dan berpengetahuan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada segudang alasan untuk Ɵdak melakukannya; kesibukan, kemalasan, keƟdakmauan, keterbatasan waktu, menjadi kata-kata yang sering dijadikan rujukan penolakan.

Menyadari betapa penƟng bacaan dan betapa penƟng dokumentasi pengalaman-pengalaman kerja, kelembagaan, dan keseharian hidup, maka SID harus memulainya. Langkahnya dengan memulai dari hal-hal yang paling berkaitan dengan kerja-kerja Desa secara kelembagaan. Sebagai sebuah lembaga yang beranjak yang berpuuh-puluh tahun bahkan sebelum ada Indonesia, SID mulai mendokumentasikan pengalaman menjadi bacaan yang siapapun bisa mengambil manfaat darinya. Pada ƟƟk ini membagi informasi dan pengalamanpengalaman merupakan sebuah jalan untuk terus berkarya bersama. Sebuah perubahan yang besar Ɵdak bisa mengandalkan kerja perseorangan, ia membutuhkan jejaring, pengetahuan, dan kelompok-kelompok yang lebih luas.

Bagi sebuah organisasi, komunitas, dan pemerintahan mengelola pengetahuan dan informasi menjadi suatu keniscayaan. Hal ini penƟng untuk mengetahui kekuatan (dan penempatan) seluruh sumber daya manusia, memanfaatkan kembali pengetahuan yang sudah ada (ditemukan) arƟnya, Ɵdak perlu mengulang proses kegagalan, mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada, dan menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meskipun terjadi arus keluar-masuk sumberdaya manusia. Dan menyadari betapa susah memulainya, perlu dipetakan langkah-langkah dan desain untuk menyusun serangkaian cara, selangkah demi selangkah melakukan dokumentasi pengalaman, kerja, dan gagasan-gagasan yang kadang tumpah-ruah tanpa tertata menuju sistemaƟsasi pengetahuan. Pengalaman-pengalaman gerakan musƟ dituliskan untuk tetap menumbuhkan ingatan mengenai tuntutan akan perubahan.

Pengelolaan pengetahuan adalah upaya yang sadar dan sengaja untuk mengelola informasi dan pengetahuan sebagai aset lembaga, menjaga keberlanjutan keberadaan pengetahuan itu dalam lembaga, termasuk didalamnya upaya mengembangkan dan menangkap (knowledge generaƟon dan knowledge capture) pengetahuan, pembelajaran dan pengalihan pengetahuan (knowledge transfer), serta pemanfaatan pengetahuan itu. Upaya itu mencakup pula idenƟfifikasi tacit knowledge (pengetahuan tersirat), yang kadang-kadang bahkan Ɵdak diketahui si pembawa pengetahuan sendiri, untuk menjadikannya pengetahuan yang tersurat (explicit knowledge) agar dapat didokumentasikan dan diteruskan kepada pihak lainnya.