Fasilitator Mengajak Peserta Pelatihan dan Pedampingan Akademi Sigap untuk Lebih Interaktif

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 13 sesi kedua Pelatihan dan Pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Senin, 12 April 2021 pukul 12.30 -14.30 WIB. Kegiatan Webinar khusus untuk BUMK kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari.

Narasumber Hasan Bahtiar, masih perjalanan ke Yogyakarta, saat ini masih  berada di Ponorogo. Dan akhirnya mendorong Fasilitator untuk mengeluarkan jurus-jurus supaya peserta pelatihan dan pedampingan akademi sigap untuk interaktif dalam mengeksplor apa saja terkait materi produk yang  kreatif dan inovatif.

Any Sundari : menjawab pertanyaan dari salah satu peserta terkait kerja sama pendanaan dengan pihka ketiga, YSID diminta YKAN pengembangan Kapasitas PEMKAM dan BUMKAM, belum sampai pada advokasi terkait tata kelola dan pendanaan, hal ini menjadikan catatan YSID yang akan kita bicarakan dengan konsorsium, dan akan dibahas ketika tatap muka nanti.

Koko : Menambahkan materi “Inovasi Berkelanjutan”.

Entrepreneurship : mengubah kotoran menjadi emas, akan mengalami proses.

Kreativitas  : kemampuan menciptakan sesuatu yang baru.

Inovasi : kreativitas yang diterima oleh pasar.

Menurut Koko ada kata ‘dan’ dan ‘tapi’ dalam Kreativitas dan Inovasi

Ada juga akronim “TAKUTIRUKO” yang terdiri dari :

  1. Tambahkan
  2. Kurangi
  3. Tiru
  4. Rubah
  5. Kombinasi

Dengan telaten Koko meladeni peserta untuk mengeksplor hal apa saja , terkait produk yang kreatif dan inovatif, berdasarkan kolom-kolom sesuai TAKUTIRUKO dengan simulasi:  Kolom tambahkan, kolom kurangi, kolom tiru, kolom rubah dan kolom kombinasi. Jangan takut harga tinggi, sepanjang ada unsur kreatif dan inovatif harga akan mengikuti. Dan masih ada satu kolom lagi pelayanan.

Ketika dibuka ruang interakif antara fasilitator dengan peserta, ada kejaian-kejadian yang terjadi, seperti suara anak kecil dari salah seorang peserta yang sedang mengobrol masuk arena webinar. Peserta lelakinya lebih pasif daripada peserta perempuannya pada siang hari ini. Ada juga peserta yang mengikuti webinar melalui HP dan posisinya masih dalam perjalanan.  (JUNAEDI – YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 12 : Perencanaan Pembangunan Desa dan Value Change Management

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 11 sesi pertama Pelatihan dan Pendampingan Akademi Kampung Sigap, dilaksanakan Kamis, 08 April 2021 pukul 08.30 -10.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Yuli Trisniati, S.H. – Sekretaris Desa atau Carik  sejak tahun 2003– Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dengan materi Perencanaan Pembangunan Desa.

Pengantar dari Zidny, selaku mentor virtual. Mereview materi pertemuan yang kemarin yaitu CIPOO.

Point 1. Contex : Sejarah desa dan visi misi kepala desa/kampung

Point 2. Input : Identifikasi Potensi : problem yang dihadapi dengan pemetaan bentang

Point 3. Program : Dikategorikan melalui  Analisa SWOT

Point 4. Output : Pemerintahan yang berih, transparan dan bertanggungjawab

Point 5. Outcame : Mewujudkan masyarakat Panggungharjo demokratis,mandiri, sejahtera, dan berkesadaran lingkungan.

Dari peserta yang mengikuti webinar Kamis ini, mayoritas Fasilitator Kampung sehingga kegiatan pelatihan dan pedampingan secara virtual pagi ini, kurang berjalan yang diharapkan dikarenakan Pemerintah Kampung banyak ynag sedang barengan acara, pagi ini.

Ryan Sugiarto : Model pelatihan dan pendampingan adalah untuk membuat dokumen perencanaan yang utuh, agar tidak ada kepentingan desa yang ditinggalkan.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 12 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Kamis, 08 April 2021 pukul 12.30 -14.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Sholahuddin Nurazmy dengan materi Value Change Management. Alat mengamati ide bisnis yang dimiliki oleh BUMK yang belum berjalan maupun sudah berjalan berdasarkan rantai nilai. Ada 2 bagian : bagian Primer dan bagian pendukung.

Pada bagian primer, terdiri dari  Inbond Logistics (bahan baku) :  mengubah semua bahan baku menjadi produk. Operation : mengubah dari bahan baku menjadi produk. Outbond Logistics : Produk siap keluar dari gudang bisa sampai ke konsumen. Marketing dan Sales (penjualan dan pemasaran) : upaya untuk mempengaruhi konsumen supaya membeli produk kita. Service : pelayanan purna jual produk yang akan diberikan kepada konsumen.

Pada bagian pendukung : Firm Infrastruktur (infrastruktur perusahaan) : peraturan perusahaan/ legalitas BUMK, SOP yang mengatur mangement BUMK.  SDM : siapa saja yang terlibat (Manajemen). Teknologi Development: dukungan teknologi, dan Procurement : Pengadaan.

Simulasi  :  Usaha Budi Daya Sayuran Hidroponik, BUMK Kayu Manis Karangan Ilir

Aktivitas Primer

  1. Bahan baku : bahan habis pakai, nutrisi, bibit sayuran, lahan, kualit
  2. Operation : penyemaian bibit, penanaman bibit, pemberian nutrisi, dan pemanenan sayur.
  3. Outbond Logistics : sayur diantar dengan menggunakan alat transportasi darat.
  4. Pemasaran dan penjualan :  Branding product, promosi di Facebook. Group-group WA. Aplikasi Google.
  5. Service :  gratis ongkir radius 2 KM, respon cepat, packing rapi, jaminan sayur masih segar.

Aktivitas Pendukung

  1. Firm Infastruktur : Ada Manajemen. Ada bagian legal, misal SOP Maintenance dan Operation
  2. SDM : 6 tenaga kerja pembibitan, pemberi nutrisi, pemanenan dan pemeliharaan hidroponik, admin dan keuangan
  3. Teknologi Pendukung :  Teknologi Hidroponik, Pipa PVC, Airator.

Pengadaan : Instalansi Pipa, Airator, nutrisi, bibit sayur, rootbull (JUNAEDI – YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 11 : Perencanaan Pembangunan Desa dan Value Change Management

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 11 sesi pertama Pelatihan dan Pendampingan Akademi Kampung Sigap, dilaksanakan Senin, 05 April 2021 pukul 08.30 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Yuli Trisniati, S.H. – Sekretaris Desa atau Carik  sejak tahun 2003– Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dengan materi Perencanaan Pembangunan Desa.

Pengantar dari Zidny, selaku mentor virtual. Dalam melakukan forum perencanaan pembangunan Desa, seperti Musdus, Musrenbangdes Musdes hanya sebagai forum formalitas belaka. Dokumen perencanaan pembangunan nantinnya akan menjadi dokumen teknokratis Desa/Kampung.

Perencanaan Pembangunan Desa : tahapan kegiatan Pembangunan Desa dengan melibatkan BPD dan masyarakat. Adapun Dokumen Perencanaan Pembangunan Desa ada dua, yaitu : RPJMDes : 6 tahun dan RKPDes :  1 tahun. Selanjutnya RPJMDes dan RKPDes ditetapkan dengan Peraturan Desa.

Tahapan Pengkajian Perencanaan Pembangunan Desa  (RPJMDes) : Baik RPJMDes mupun RKPDes dilakukan oleh tim penyusun berjumlah  :  11 orang terdiri dari :

  1. Kepala Desa
  2. Sekretariat Desa
  3. LPMD
  4. Tokoh Masyarakat
  5. Perwakilan Perempuan
  6. Kepala Dusun
  7. KPMD

Adapun tahap-tahap penyusunan RPJMDes :

  1. Musyawarah Dusun (Musdus) – RPJMDes : dilaksanakan pada malam hari. Di Panggungharjo dilakukan selama 14 malam, yang dilakukan oleh Tim yang terdiri dari : Pemerintah Desa, BPD, LPMD, Karang Taruna, PKK, BUMDes, Pakarti (Paguyuban Ketua RT) dan tokoh masyarakat di Dusun. Di dahului dengan melakukan  FGD/Workshop : 10 tema isu yang dibahas di Panggungharjo, antara lain : Pendidikan, Kesehatan, Pemuda, Perempuan dan Anak, Ekonomi, Kedaulatan Pangan dan Lingkungan, Agama dan Kebudayaan, Keamanan dan ketertiban, Reformasi Birokrasi, Tata Ruang dan Infrastruktur. Di Panggungharjo Workshop dilakukan pada hari Senin dan FGD dilaksanakan pada hari kamis.
  2. Musyawarah Desa (Musdes) – RPJMDes : yang melaksanakan adalah BPD dengan melibatkan semua stake holder yaitu Pemerintah Desa, BPD, LPMD, Karang Taruna, PKK, BUMDes, Pakarti (Paguyuban Ketua RT), semua tokoh di Desa dan perwakilan lembaga Desa.  
  3. Musrenbang – RPJMDes : yang melaksanakan Pemerintah Desa. Disepakati skala prioritas program kegiatan yang mendesak dan harus dilaksanakan selama 6 tahun.
  4. Penetapan RPJMDes dengan Peraturan Desa : BPD menerima RPJMDes yang sudah disepakati melalui Musrenbang satu minggu setelah jadi untuk menjadi Peraturan Desa.

Tahapan Perencanaan Pembangunan Desa (RKPDes) : RKPDes : menjabarkan RPJMDes yang sudah ditetapkan oleh BPD , setiap tahunnya. Baik RPJMDes mupun RKPDes dilakukan oleh tim penyusun berjumlah  :  11 orang terdiri dari :

  1. Kepala Desa
  2. Sekretariat Desa
  3. LPMD
  4. Tokoh Masyarakat
  5. Perwakilan Perempuan
  6. Kepala Dusun
  7. KPMD

Adapun langkah- langkah penyusunan RKPDes :

  1. Musdus  – RKPDes
  2. Musdes – RKPDes
  3. Musrenbang – RKPDes
  4. Penetapan RKPDes dengan Peraturan Desa

Tanggapan dari Zidny : Bagaimana menurunkan frame CIPOO  menjadi dokumen RPJMDes, dokumen perencanaan Desa/Kalurahan secara komprehensif dan sistematis.

Pertanyaan dari Murjani, dari  Kampung Melati Jaya. Bagaimana apabila dalam perjalanannya RPJMDes mengalami  perubahan, dan tim sebelasnya tidak dapat bekerja sampai selesai?

Jawaban dari Yuli : Perlu review terkait adanya UU 6 tahun 2014, yang dilakukan di Panggungharjo review per bidang dan jangka waktu dari 5 tahun menjadi 6 tahun, kemudian lampiran yang dirubah hanya pasal-pasalnya yang mengalami review saja dan penyesuaian tim baru lagi. Pengalaman di Panggungharjo yang menyusun adalah Sekretariat Desa, dengan melihat RPJMD Kabupaten yang sudah ada kemudian terkait data-data diambil dari tim RPJMDes, dan selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten yang ada kaitannya.

Pertanyaan dari Endri Pemerintahan Kampung Maluang, ada pemilihan Kepala Kampung Maluang, apa dapat dibantu oleh YSID dalam hal penyusunan RPJMKal Maluang?

Jawaban dari Any Sundari : Pemerintah Kampung Maluang dapat menduplikasi praktik-praktik baik yang terjadi di Panggungharjo, misalnya mulai menduplikasi forum-forum FGD atau workshop.

Tambahan jawaban dari Zidny : Pada prinsipnya YSID akan membantu proses-proses dalam pelatihan dan Pendampingan yang dilakukan oleh YSID, tetapi lembar kerja yang telah diberikan dalam pelatihan dan pendampingan harus dipahami kembali, agar menjadi dokumen RPJMDKal yang baik, rinci dan detail.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 11 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Senin, 05 April 2021 pukul 12.30 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Sholahuddin Nurazmy dengan materi Value Change Management. Alat mengamati ide bisnis yang dimiliki oleh BUMK yang belum berjalan maupun sudah berjalan berdasarkan rantai nilai. Ada 2 bagian : bagian Primer dan bagian pendukung.

Pada bagian primer, terdiri dari  Inbond Logistics (bahan baku) :  mengubah semua bahan baku menjadi produk. Operation : mengubah dari bahan baku menjadi produk. Outbond Logistics : Produk siap keluar dari gudang bisa sampai ke konsumen. Marketing dan Sales (penjualan dan pemasaran) : upaya untuk mempengaruhi konsumen supaya membeli produk kita. Service : pelayanan purna jual produk yang akan diberikan kepada konsumen.

Pada bagian pendukung : Firm Infrastruktur (infrastruktur perusahaan) : peraturan perusahaan/ legalitas BUMK, SOP yang mengatur mangement BUMK.  SDM : siapa saja yang terlibat (Manajemen). Teknologi Development: dukungan teknologi, dan Procurement : Pengadaan.

Simulasi  :  Usaha Teh Kesehatan dari BUMK Lebok Asik Merabu

Aktivitas Primer

  1. Bahan baku : daun karamunting, daun gaharu, dan serbuk kayu ulin. Melimpah di Merabu ketiga bahan baku itu. Resep rahasia : komposisi dan kualitas. Benang, Kertas :  kemasan produk. Gudang : tempat penyimpanan bahan baku dan produk siap saji.
  2. Operation : mulai pengeringan, pencacahan, penyimpanan, penimbangan, pencampuran dan pengemasan menjadi teh siap saji.
  3. Outbond Logistics : produk yang sudah berupa kemasan di gudang sampai ke pedagang grosir (di Samarinda) dengan menggunakan alat transportasi darat.
  4. Pemasaran dan penjualan :  melalui media sosial  dan link penjualan bisa ke pedagang grosir di Samarinda dan juga bisa langsung ke BUMK Lebok Asik Merabu.
  5. Service :  pelayanan purna jual produk.

Aktivitas Pendukung

  1. Firm Infastruktur : Ada Manajemen. Ada bagian legal, misal MoU.
  2. SDM : Kepala unit usaha, ada orang yang menguasai pengetahuan Teh Kesehatan (pencari bahan baku), ada orang yang negosiator. Tenaga Kerja untuk menyimpan bahan baku, mencacah, mencampur dan menimbang.
  3. Tecnology Development :  Teknologi menyimpan bahan baku. Alat pres untuk kemasan.

Pengadaan : Daun kemuning, daun gaharu, serbuk kayu ulin dari petani. Benang,kertas (kemasan produk) dari Balai Besar Pelatihan termasuk BPOM  (terkait ijin edar) (JUNAEDI – YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 10 : Review materi Analisis GAB 2 (Sharing session)

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 10 sesi pertama Pelatihan dan Pendampingan Akademi Kampung Sigap, dilaksanakan Kamis, 01 April 2021 pukul 08.30 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Rosada Roan Ath-Thariq – salah satu Pamong Kalurahan – tepatnya sebagai Kepala Dusun Garon Kalurahan Panggungharjo dengan Review materi Analisis GAB 2 (Sharing session).

Peserta pertama, dari Pemerintah Kampung Maluang memaparkan lembar Analisis SWOT.

Kekuatan :

            1. Kapasitas Aparatur Kampung yang memadai, Pendidikan rata-rata S1

            2. Wilayah dan SDA yang subur

            3. Listrik dan Internet

            4. Pekerjaan : Petani dan berkebun

            5. Peletakan batu pertama pembangunan PDAM

Kelemahan :

            1. Masih adanya jalur usaha tani yang belum memadai

            2. Belum adanya air bersih (PDAM)

Peluang :

  1. Gotong royong dan rasa kebersamaan masih kuat
  • Jarak antar kampung dengan ibu kota yang dekat

3.   Jalur poros utama: ibu kota kecamatan dan ibu kota provinsi

      4.   Merupakan ring kesatu tambang batu bara, peluang tenaga kerja atau CSR

5.   APL(non kawasan ) di kelola oleh warga Kampung Maluang

Ancaman :

            1. Ada Pendatang dari luar Kampung akan memberikan perubahan

            2. APL dikuasai oleh investor

Arah kebijakan dan Strategi dari Pemerintah Kampung Maluang, berdasarkan kolom kombinasi dua point Analisis SWOT :

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dengan bekerja dengan pemerintah daerah.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Bekerja sama dengan Dinas PU/DLH untuk memperbaiki jalan usaha tani.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Membuat Peraturan Kampung untuk melindungi pihak-pihak luar yang mengancam aset-aset APL yang dikelola warga Kampung

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Mulai melakukan advokasi dan edukasi tentang pembuatan sertifikatikasi  tanah (SHM) secara gratis bekerja sama dengan BPN ( BAPPEDA) dan fasilitasi dari Pemerintah Kampung untuk mengimbau kepada warga agar jangan terlalu mudah menjual tanah kepada pihak luar *)

*) : Tanggapan  dari Any Sundari selaku mentor visual dan salah satu peserta dari Pemeritah Desa Sungai Payang, yaitu Bapak Rusdin.  

Peserta Kedua, pemamparan lembar Analisis SWOT dari Pemerintah Kampung Tanjung Batu.

Kekuatan :

  1. SDA : Pariwisata, Pertanian, dan Kemaritiman

Kelemahan :

  1. Belum ada listrik PLN dan Air Bersih
  2. Jalan poros belum diaspal
  3. Belum maksimal BUMK
  4. Jalan kampung belum di cor
  5. Masih banyak wisata alam terkelola dengan maksimal

Peluang :

  1. Lahan subur untuk Pertanian
  2. Pembangunan TPI

Ancaman :

  1. Persoalan Listirk
  2. Persoalan Air Bersih

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Kerja sama dengan Dinas PU dan Dinas Pertanian  Kabupaten/Provinsi untuk pembangunan TPI dan meningkatkan kapasitas skill petani.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Kerja sama dengan PLN,  PDAM dan Dinas PU  agar semua Kampung teraliri listrik,  air bersih, dan pengaspalan jalan poros.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Untuk memaksimalkan potensi SDA segera bekerja sama dengan PLN dan PDAM untuk mengaliri listrik dan air bersih  di kawasan pariwisata

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Kerja sama saling menguntungkan dengan Pemerintah Daerah, Swasta untuk pengadaan listrik dan air bersih.

Tanggapan dari Muhammad Zidny Kafa : akan lebih baik lagi, kalau pengisian data Analisis SWOT lebih didetailkan lagi. Sehingga ketika dimasukkan kolom-kolom penggabungan dua analisis lebih akurat dan lebih kaya.

Peserta ketiga, pemaparan dari Pemerintah Kampung Tanjung Batu.

Kekuatan :

  1. SDA melimpah  : pertanian (dominan)
  2. SDM dan pengelola lembaga-lembaga Kampung sudah berjalan
  3. Adanya Pelabuhan

Kelemahan :

  1. SDM Aparat desa rata-rata SMA dan sedikit S1
  2. Belum adanya TPA dan minimnya petugas kebersihan

Peluang :

  1. Perusahaan Kelapa Sawit bekerja sama dengan masyarakat mengelola plasma
  2. Penanaman pohon mangrove
  3. LSM Mangrove
  4. Masuknya Peti kemas
  5. Platform digital

Ancaman :

  1. Abrasi pantai
  2. Kerusakan pohon mangrove

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Kerja sama dengan Dinas Perikanan dan Dinas Pariwisata  Kabupaten/Provinsi untuk pembangunan pengelolaan pelabuhan,  dan pengelolaan wisata magrove.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Peningkatan Kapasitas Building Aparatur desa yang masih baru melalui Diklat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah/Provinsi, misalnya Dinas PMD.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Melibatkan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaga Kampung untuk mencegah kerusakan lingkungan, abrasi pantai dan kerusakan pohon mangrove

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Memaksimalkan wisata mangrove sebagai pusat edukasi pelestarian lingkungan

Tanggapan  dari Any Sundari : Perlu melibatkan generasi muda dan anak-anak, untuk mengedukasi dalam proses pelestarian lingkungan, seperti kerusakan mangrove akibat pembuangan sampah yang sembarangan. Karena pelestarian lingkungan, karena pohon mangrove dapat mencegah abrasi pantai.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 10 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Kamis, 01 April 2021 pukul 12.30 -15.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Sholahuddin Nurazmy, CEO pasardesa.id.

Melanjutkan review materi Senin kemarin (29/03/2021), peserta memaparkan terkait penugasan yang telah diberikan oleh narasumber. Peserta masih mempresentasikan unit usaha yang kemudian di seleksi dengan beberapa pertanyaan saringan legal, passion, pasar dan bisnis, seperti kemarin :

Pemaparan pertama dari BUMK Rumpun Jaya Mandiri, terkait unit usahanya :

  1. Toko Bahan Bangunan

Legal : sudah ada di atur dalam AD/ART

Passion : Pernah bekerja sama dengan PUPR, dalam program BPPS, menunjuk salah satu CV

Pasar : Masyarakat dan Pemerintah Kampung, belum kompetitor sejenis

Bisnis : menunjuk salah satu CV

  • Agen Gas LPJ  : 3 kg

Legal : syarat menjadi agen ternyata cukup berat

Passion : hanya cocok hanya menjadi pangkalan bukan agen, tetapi tidak boleh mematikan usaha masyarakat yang sejenis

Pasar : target yang ditetapkan 1.200 tabung gas oleh agen terlalu berat. Target masyarakat dan luar Kampung.

Bisnis : Produk mengalami penguapan. Modal : 125 .000.000/perbulan

  • Toko Tani *)

Legal : sudah masuk di AD/ART

Passion : Sebagian besar masyarakat sebagai petani

Pasar : bisa memperpendek jalur distribusi pupuk pertanian.

  • Peternakan Ayam petelur

Legal : sudah masuk di AD/ART

Passion : Masyarakat sudah mengelola usaha masyarakat dalam lingkup kecil

Pasar : Ada peluang usaha di bidang peternakan ayam telur

  • Unit Air Minum Kampung*)

Legal : sudah ada di AD/ART

Passion : Bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengadaan pipa.

Pasar : Ada kompetitor PDAM masuk

Bisnis : mampu membayar gaji dan membayar maintenance alat

Tanggapan dari Sholahuddin, selaku narasumber : selain empat saringan, perlu dilihat dari saluran rantai pasok terkait Unit Usaha  Saprodi. Bahan baku saprodi lebih fokus apa? Pupuk Pabrikan yang diterbitkan lewat Kartu Tani. Selama ini, di dapat di toko RDKK yang jaraknya sangat jauh. BUMK kulakan, jual ke warga.  Terkait bahan baku : perlu mencari pihak-pihak yang memutus banyak jalur distribusi, sehingga dapat harga murah.Revisi Nama dari Unit Saprodi menjadi Toko Tani *). Untuk Bahan Baku Air Minum Kampung, dari Kampung Melati Jaya yaitu dari sungai mengalir bukan dari Bendungan. Perlu komunikasi dan koordinasi BUMK  dan pihak PDAM. Karakternya adalah jasa. Valuenya terkait ketepatan dan kecepatan. Model Bisnis adalah iuran masyarakat. Lebih banyak benefit daripada profit, karena menguasai hajat hidup orang banyak. Yang jelas jangan sampai merugi.

Peserta kedua dari BUMK Surya Jaya Abadi, memaparkan ide usaha.

  1. Unit Suplier Material Bangunan, di seleksi dengan beberapa pertanyaan saringan-saringan legal, passion, pasar dan bisnis

Setiap Kampung mempunyai kegiatan fisik.Tidak melanggar hukum (legal). Apakah usaha ini benar-benar anda inginkan? Iya. Apakah ada yang menghalangi bisnis anda? Ada, supplier luar Kampung. Bagaimana bisnis itu menghalangi bisnis anda? Persaingan harga. Bagaimana anda bisa mengatasi usaha ini? Pemberdayaan BUMK sendiri oleh intervensi Pemerintah Kampung. Berapa besar ukuran pasar? Cukup luas.Seberapa dekat pasar dengan produk kita? Bahan sudah sering digunakan oleh Pemerintah Kampung. Seberapa jaminan kesuksesan usaha anda? Jaminan Anggaran dari Pemerintah Kampung. Apa fonemana yang terjadi di pasar? Kelangkaan material pada bulan-bulan tertentu dan harganya tinggi. Apa saja segmen pasar berbeda? Dapat Suplai ke warga, atau kerja sama dengan kontraktor. Margin yang diinginkan? Sesuai kemampuan BUMK mensuplai bahan material bangunan.Seberapa besara bangunan yang dibutuhkan? Tidak butuh tempat tanah kosong. Apa barang dibutuhkan ?Sudah pasti dibutuhkan. Masalah apa yang dihadapi? kelangkaan dan kenaikan harga. Hal perlu disiati dengan menstok barang-barang tertentu. Modal awal 250.000.000. Seberapa efisien bisnis anda? Cukup sederhana jadi sangat efisien. Sarana dan prasarana cukup mendukung. Transportasi dengan bekerja sama dengan warga yang memiliki kendaraan dengan sistem sewa. Bagaimana keadaan keuangan BUMK? Cukup bagus. Apa sudah waktunya Kampung untuk menjalankan usaha ini? Iya , sudah waktunya. Karena sudah ada jaminan keuangan (dana).

Tanggapan dari Sholahuddin, selaku narasumber :  Terdapat material lokal yang perlu dieksplor, desain dan kearifan lokal. Perlu edukasi terkait jenis pembangunan, tidak melulu pada desain kekinian, tetapi akan lebih menarik ketika melakukan pembangunan lokal, misal desain rumah adat. Artinya material lokal tidak hanya di suplai ke kampung tetapi material lokal bisa diekspor ke luar Kampung. Misalkan dengan penawaran desain bangunan tropis ramah lingkungan dengan material kayu bukan melulu semen.  

Tambahan dari Any Sundari, selaku mentor virtual : belajar dari Panggungharjo, berinovasi dan mengambil risiko usaha, misalnya dengan pilihan Kampoeng Mataraman. Unit Usaha Wisata Kuliner Edukasi. Padahal Panggungharjo tidak memiliki bentang alam, tetapi dengan potensi sosial budaya yang masih kuat (JUNAEDI – YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 9 : Analisis GAB 2 dengan menggunakan teknik evaluasi CIPOO

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 9 sesi pertama Pelatihan dan Pendampingan Akademi Kampung Sigap, dilaksanakan Senin, 25 Maret 2021 pukul 08.30 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Rosada Roan Ath-Thariq – salah satu Pamong Kalurahan – tepatnya sebagai Kepala Dusun Garon Kalurahan Panggungharjo dengan materi Analisis GAB 2 dengan menggunakan teknik evaluasi CIPOO. 

Sebelum dikenal adanya teknik evaluasi CIPOO, terlebih dahulu Daniel Stuffleabeam dkk (1967) di Ohio State University mengenalkan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) untuk menggambarkan perencanaan dalam  mengambil keputusan/kebijakan di masa yang akan datang. Kemudian CIPP berkembang menjadi CIPOO (Context, Input, Process, Output, dan Outcome).

Pertama, Context : terkait konteks, program apa yang direncanakan dan bagaimana cara-cara dalam menggali data? Kondisi riil dan idealnya seperti apa ? Dan organisasi (manajemen) seperti apa? Kedua, Input : rencana produknya/program apa? , bagaimana cara-cara mendokumentasi inputnya? Ketiga, Process : bagaimana proses inventarisir data yang telah dilakukan ? Keempat, Output : hasil produk/program kerja yang sudah diinventarisir. Kelima, Outcame : dampak/efeknya dari program kerja

Context : dapat dilakukan dengan cara : 1) studi literasi, dengan melihat sejarah desa dan dengan melihat visi dan misi kepala desa, mempelajari RPJMDes, mempelajari RKPDes 2) observasi langsung 3) wawancara 4) mengamati dengan bentang 5) manajemen the right men on right place (profesional) 5) sistem reward dan punishment dalam menilai kinerja 6) sarana dan prasarana infrastrukturnya 7) melakukan musyawarah padukuhan (musdus).

Input :  menggali data dari hal-hal tersebut di atas kemudian di susun/di dokumentasikan menjadi dokumen perencanaan. dari Panggungharjo dengan menggunakan forum workshop dan FGD.

Process  : menginventarisir data menjadi rencana program kerja dalam bentuk dokumen perencanaan program kerja, dilakukan oleh tim kecil perencanaan yang ditunjuk oleh Kepala Desa.

Output : rencana program kerja, yang sudah di matangkan oleh tim yang bersumber dari proses penyusunan (input data) menjadi dokumen RKPDes.

Outcame : Setelah menjadi rencana program kerja, dampaknya bagi masyarakat/sasaran program itu apa dan bagaimana?

Menurut Any Sundari : memerlukan banyak waktu untuk memahami alat evaluasi CIPOO. Untuk mengetahui kesenjanganan antara perencanaan dan kondisi riil desa. Untuk diajdikan bahan pertimbangan strategi kebijakan di masa yang akan datang. Menurut pengalaman dalam beberapa pelatihan dan pendampingan sering peserta salah-salah dalam memahami Output dan Outcame.

Menurut Zidny : Pengalaman di Panggungharjo, dalam melakukan CIPOO dengan pendekatan  forum workshop dengan mengundang nara sumber yang kompeten dan FGD tim kecil RPJMDes, yang dilakukan tim penyusun RPJMDes Panggungharjo.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 9 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Senin, 29 Maret 2021 pukul 12.30 -15.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Sholahuddin Nurazmy, CEO pasardesa.id.

Dimulai dari review materi Senin kemarin (25/03/2021), peserta memaparkan terkait penugasan yang telah diberikan oleh narasumber. Peserta masih mempresentasikan unit usaha yang kemudian di seleksi dengan beberapa pertanyaan saringan legal, passion, pasar dan bisnis, seperti kemarin :

  1. Apakah usaha ini melanggar hukum ? (saringan legal) –
  2. Apakah usaha ini benar-benar ingin anda lakukan ? (saringan passion) –
  3. Apa yang akan menjadi kendala/halangan bisnis anda? (saringan passion) –
  4. Bagaimana hal itu menghentikan bisnis anda? (saringan passion) –
  5. Apa cara/strategi  yang anda lakukan untuk mengatasi  hal ini ? (saringan passion) –
  6. Apa yang menjadi minat bisnis anda? (saringan passion) –
  7. Apa yang membuat bisnis anda bersemangat? (saringan passion) –
  8. Berapa ukuran pasar yang sedang akan digarap? Seberapa potensi pasar yang berkembang dan menyusut ? (saringan pasar) –
  9. Seberapa besar peluang pasar konservatif, apa nilainya bagi BUMK baik secara finansial dan sebaliknya? (saringan pasar) –
  10. Seberapa cocok produk diterima? (saringan pasar) –
  11. Apa ada pasar baru?(saringan pasar) –
  12. Apa yang membuat usaha ini akan gagal? (saringan pasar) –
  13. Siapa pesaing yang akan membuat usaha ini akan gagal ? (saringan pasar) –
  14. Apa  kebiasaan di pasar, bagaimana dengan kebutuhan produk ? (saringan pasar) –
  15. Apa saja segmen pasar yang berbeda? (saringan pasar) –
  16. Apa anda ingin bersaing pada segmen yang berbeda? (saringan pasar) –
  17. Mana yang akan tumbuh dan menyusut? (saringan pasar) –
  18. Siapa pesaing pasar yang ada, mengapa konsumen membeli ke pesaing itu? (saringan pasar) –
  19. Apa yang perlu dilakukan untuk membuat pelanggan membeli produk anda? (saringan pasar) –
  20. Margin seperti apa yang akan kita harapkan ? (saringan pasar) –
  21. Target prioritas pelanggan ? (saringan pasar) –
  22. Apakah barang/produk ini sesuai dengan kebutuhan pelanggan? (saringan bisnis) –
  23. Apakah ada varian barang/produk ? (saringan bisnis) –
  24. Apakah ada masalah dengan produk, terkait harga, layanan dan pemasaran? (saringan bisnis) –
  25. Apakah anda perlu mendefinisikan kembali produk ? (saringan bisnis) –

Saran dari narasumber terkait beberapa ide bisnis dari peserta : intinya semua ide usaha di seleksi (diuji) dengan semua pertanyaan diatas. 

  1. Usaha pertanian hidroponik.
  2. Kalau lahannya masih luas, mengapa pilih hidroponik? Lebih baik memanfaatkan tanah yang masih luas. Tetapi alasannya sayur produksi dari hidroponik lebih segar dan kualitas lebih tahan lama, bisa dijalankan atau tidak?
  3. Perlu observasi langsung ke perusahaan tambang sebagai target pasar
  4. Berapa kebutuhan pasar, misalnya  prediksinya pasar di perusahaan tambang
  5. Semangat usaha lebih ke arah mana, misalnya  : mengatasi persoalan ketersediaan stok sayur
  6. Agar tidak mematikan usaha yang sudah ada (petani). Bekerja sama dengan petani dengan membeli hasil sayur dari petani.
  7. Tidak menyarankan persaingan harga. Lebih baik menciptakan produk dengan  pelayanan yang prima (kecepatan dan ketepatan), kemasan yang baik.
  8. Semua ide usaha di seleksi (diuji) dengan semua pertanyaan diatas. 
  • Usaha tata boga.
  • Harus dilakukan sesuai dengan minat.
  • Harus telaten, karena marginnya kecil.
  • Apabila memberi peluang produk pertanian, akan lebih baik.
  • Usaha pembayaran listrik/usaha pulsa.
  • Marginnya kecil
  • Apakah keuntungannya cukup untuk membiayai operasional usaha
  • Usaha pengolahan sampah.
  • Usaha ini mampu menjawab persoalan-persoalan lingkungan
  • Usaha ini mampu menampung tenaga kerja yanag berasal dari warga
  • Apakah usaha ini, mampu memberikan nilai ekonomis atau tidak?
  • Margin usaha berapa? Apakah mampu untuk menutup operasional usaha.
  • PT. Sinangpuri : Perusahaan listrik baru memanfaatkan potensi 12% kapasitas dari total kapasitas PLTS, masih ada sisa kelebihan  potensi kapasitas yang dimiliki masih 88 % . Kapasitas total : 32.000 MW, saat ini baru digunakan untuk satu desa kebutuhan listriknya : 12.000 MW.
  • Yang masih menghalangi adalah infrastruktur : instalasi jaringan listrik (kabel).
  • Jarak tempuhnya sangat jauh.
  • Tidak ada pesaing, misal : PLN, atau perusahaan sejenis : juga tidak ada.
  • Nilai investasi sebesar Rp 25 Milyar.
  • Sarannya : Perlu ada perhitungan mendetail, agar risiko bisnis tidak terjadi.
  • PT. Sinangpuri memiliki 51% saham kepemilikan. Pemilik saham lainnya PT. AVO dan PLTN.
  • Operasional : 8.000.000/per bulan.
  • Sarannya : mencari investor untuk bekerja sama melebarkan sayapnya ke Desa lain, untuk memanfaatkan kapasitas lisrtik yang masih dimiliki.
  • Segmen pasar : keluarga, kantor, sarang burung walet, dan mesin penyaring madu.
  • Danungpuri : Depo Air Minum
  • Volume depo air minum : 15 ton/per bulan.
  • Kualitas air mineral hanya selisih 7% dari Aqua.
  • Pengguna (pasar) : sangat luas dan sangat jauh.
  • Dari pencermatan narasumber : usaha yang dilakukan oleh BUMK Lebok Asik sudah di seleksi semua oleh Pengurus BUMK, karena lolos semua melalui saringan legal, passion, pasar dan bisnis.

Tanggapan dari Any Sundari, jangan terlalu momok (alergi) dengan guide beberapa pertanyaan yang terlalu banyak, tetapi imajinasikan bahwa ide bisnis yang digali benar-benar merupakan potensi dan peluang yang dimiliki, sehingga dengan guide pertanyaan-pertanyaan akan menjadi lebih objektif dalam menentukan unit bisnis BUMK. Sehingga ketika memilik satu unit bisnis unggulan setelah lolos dari seleksi beberapa guide, adalah untuk memberikan kepercayaan kepada investor (Pemkam),  juga sustainable bisnis, juga untuk mempertanggungjawabakan bisnis agar bisnis selalu berorientasi  keuntungan  dan berorientasi  kemanfaatan bagi warga (JUNAEDI – YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 8 : Analisis GAB dan Analisis SWOT

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 8 sesi pertama, dilaksanakan Kamis, 25 Maret 2021 pukul 08.30 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Rosada Roan Ath-Thariq – salah satu Pamong Kalurahan – tepatnya sebagai Kepala Dusun Garon Kalurahan Panggungharjo dengan melanjutnya feed back (sharing session) penugasan lembar kerja : materi Analisis GAB dan  Analisis SWOT.

Pemaparan dari peserta terkait Analisa SWOT oleh Mardani, dari Kampung Tanjung Batu.

Kekuatan         :           1. Lokasi Strategis di pesisir pantai

2. SDM banyak lulusan S1 *)

                                    2. SDA yang sangat banyak : termasuk hutan dan pantai.

                                    3. Anggaran banyak *)

                                    4. Lembaga-lembaga Desa *)

5. Sarana dan Prasarana (infrastruktur) : Kantor pemerintah dan Pelabuhan

Kelemahan      :           1. Belum adanya Perkam untuk mengatur pengelolaan sampah

                                    2. Belum ada TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah )

                                    3. Petugas Kebersihan Kampung sangat terbatas

                                    4. SDM Perangkat Kampung yang cenderung lamban

Peluang           :           1. Kerja sama BPD *)

                                    2. Kerja sama NGO (LSM) *)

                                    3. Kerja sama dengan UPTD Kecamatan

                                    4. Masuknya Kapal PELNI dan Peti Kemas *)

                                    5. Pengembangan Wisata Mangrove

Ancaman         :           1. Adanya Ilegal fishing dan pencemaran lingkungan

                                    2. Abrasi pantai

                                    3. Sampah semakin banyak dari luar Kampung

                                    4. Kerusakan hutan Mangrove

Dan selanjutnya  diberi feed back dari Thariq, Any Sundary dan Zidny  yang diberi tanda :*), agar lebih spesifik. Dan perlu menambahkan isu-isu sosial-budaya yang tidak terlihat tetapi menjadi justru masalah.

Peserta kedua, memaparkan lembar kerja penugasan oleh Agustinus, dari Merabu.

Kekuatan          :            1. Dana Transfer dari Pemerintah, PAK dari Bumkam dan dari pihak ketiga

                                       2. Mempunyai Bumkam

   3. SDA  : hasil hutan bukan kayu

   4. Hutan Desa

   5. Masyarakat dan Pemkam sangat kompak

   6. Punya Tata Ruang Desa

   7. Listrik yang dikelola Bumkam

   8. Air Bersih dari danau

   9. Punya TPA (Tempat pembuangan Akhir Sampah )

  10. Punya Motor sampah

  11. Fasilitas Desa : Kantor, kendaraan dinas, mobil ambulance

  12. Pemkam berpihak kepada masyarakat

Kelemahan      :            1. Jauh dari ibukota Kecamatan dan ibu kota Kabupaten

                                     2. Struktur jalan belum memadai

                                     3. Tapal batas Kampung *) : berkali-kali berganti-ganti terus

                                     4. Kesadaran masyarakat soal sampah masih rendah

                                     5. Jaringan internet *)

Peluang           :            1. Ada 5 Perusahaan Sawit

                                     2. Hutan Sawit

 3. Geopack, dfestinasi wisata dunia

 4. Pertanian jangka pendek

 5. Banyak SDM :  fresh graduate

 6. Pengolahan hasil hutan bukan kayu

 7. Merekrut tenaga ahli dari luar Kampung

  8. Kerja sama dengan Pemerintah Daerah, swasta : dalam bidang

     sosial-budaya *)

  9. Kerja sama Antar Desa : BKAD *)

Ancaman         :            1.  Ada 5 Perusahaan Sawit

                                     2. Adanya aktivitas Perusahaan Sawit

                                     3. Ilegal loging

 4. Bencana Alam *) : Kebakaran Hutan, Hutan Gundul menyebabkan longsor

*) : Feed back dari Thariq, Any dan Zidnya. Khusus untuk Tapal Batas Kampung, menjadi masalah sangat urgen dan segera untuk dilakukan dalam negoisasi antara Pemerintah Kampung, Pemerintah Daerah dan Peusahaan, dengan menelusur aparat Pemerintah Kampung yang mencatat aset kampung yang masuk Profil Kampung, terkait sejarah Kampung. Apalagi ada kekuatan kekompakan masayarakat dan Pemerintah Kampung serta Potensi Warisan Dunia Geopack Wisata Dunia untuk meminta Pemerintah Daerah secara serius untuk mengatur tentang Tapal Batas Kampung. Atau bisa juga dibawa kepada BKAD memfasilitasi persoalan tapal batas Desa ini, apabila menjadi persoalan bersama Kampung-Kampung di Wilayah Berau Kalimantan Timur agar posisi tawar Pemkam lebih punya power.

Peserta ketiga, pemaparan penugasan dari Pemerintah Desa Karangan Ilir, disampaikan oleh Ahmad.

Kekuatan         :            1. Ada Lahan Pertanian : rentang kepemilikan 1 KK : 1 Ha

 2. Bertambahnya jumlah konsumen dari hasil pertanian

 3. Berprofesi warga :  Petani dan peternak.

 4. Wilayah *) berada  : di Pertanian dan Peternakan

Kelemahan      :           1. Masih kurangnya pengetahuan tentang Petanian dan Peternakan

 2. Mahalnya biaya produksi

 3. Minimnya jumlah penduduk

 4. Lembaga Khusus Pertanian dan Peternakan : GAPOKTAN *)

 5. Jarak untuk memasarkan produk sangat jauh

Peluang           :            1. Swasembada Petanian dan Peternakan

 2. Munculnya UMKM yang memasarkan Pertanian dan Peternakan

 3. BUMDes membuka peluang unit usaha

 4. Teknologi untuk mendukung teknologi pasca panen : Teknologi Pengolahan Pangan *)

 5. Kerja sama dengan Dinas Pertanian, Dinas Peternakan *)

 6. Kerja sama dengan Desa lain, melalui BKAD : fokus dalam bidang ekonomi*)

Ancaman       :              1. Hasil Pertanian dan Peternakan  :  adanya kompetitor yang mempunyai usaha sejenis

  2. Daya tahan produk terbatas

  3. Malasnya warga masyarakat untuk mengolah hasil Pertanian dan  Peternakan

*) : feed back dari Thariq, Any dan Zidny : Dicari beberapa inovasi-inovasi yang bisa menambah nilai produk. Bekerja sama melalui dengan BKAD, memotong jalur distribusi di wilayahnya sendiri, misalnya menggunakan  platform digital pasar.id

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 8 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Kamis, 25 Maret 2021 pukul 12.00 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko)dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Sholahuddin Nurazmy, CEO pasardesa.id.

Dalam sesi siang ini, adalah review (sharing session) materi hari Senin (22/03/2021) kemarin, terkait pemetaan bentang dan menggali ide bisnis. Ada hal yang menarik dalam sesi siang ini, peserta yang menggali ide bisnis sesuai dengan tool lembar kerja yaitu menuliskan ide bisnis sebanyak 50 ide bisnis akan mendapat dari hadiah langsung dari Sholahuddin, selaku nara sumber pada sesi ini. Hadiah merchandise berupa : satu buah kaos cantik produksi BUMDes Bersama Indonesia (BBI).

Ada 6 BUMK yang menuliskan ide-ide bisnis, yaitu BUMK Labanan Makarti : 50 usaha, BUMK DKI Manis : 4 usaha, BUMK Mangrove Teluk Semanting :  3 usaha, BUMK Bugisunan : 20 usaha , BUMK Padai Pilanjau : 4 usaha , BUMK Lebok Asik : 25  usaha.

Kemudian dari ide-ide bisnis di seleksi atau dieleminasi menggunakan alat, dengan panduan beberapa pertanyaan untuk memeras ide-ide bisnis tersebut sekaligus simulasi:

  1. Apakah usaha ini melanggar hukum ? (saringan legal) – semua usaha lolos
  2. Apakah usaha ini benar-benar ingin anda lakukan ? (saringan passion) – peternak ayam petelur dan usaha cucian kendaraan
  3. Apa yang akan menjadi kendala/halangan  bisnis anda? (saringan passion) – pesaing, dan budaya masyarakat terkait menggunakan jasa cuci rendah (tidak profitable)
  4. Bagaimana hal itu menghentikan bisnis anda? (saringan passion) – perang harga, pakan ternak,
  5. Apa cara/strategi  yang anda lakukan untuk mengatasi  hal ini ? (saringan passion) – mengikuti perang harga, menambah stok pakan ternak di gudang
  6. Apa yang menjadi minat bisnis anda? (saringan passion) – iya, karena melihat peluang bisnis
  7. Apa yang membuat bisnis anda bersemangat? (saringan passion) – dukungan dari pemkam dan masyarakat
  8. Berapa ukuran pasar yang sedang akan digarap? Seberapa potensi pasar yang berkembang dan menyusut ?(saringan pasar) – produksi masih kecil : 20%, akan terus berkembang
  9. Seberapa besar peluang pasar konservatif, apa nilainya bagi BUMK baik secara finansial dan sebaliknya? (saringan pasar) – target : 60 %, menyerap tenaga kerja, pemberdayaan petani, keuntungan meningkat
  10. Seberapa cocok produk diterima? (saringan pasar) – kualitas bertahan lama, lebih disukai oleh konsumen
  11. Apa ada pasar baru?(saringan pasar) – menggarap diluar Berau
  12. Apa yang membuat usaha ini akan gagal? (saringan pasar) – apabila tidak mempertahankan kualitas
  13. Siapa pesaing yang akan membuat usaha ini akan gagal ? (saringan pasar) – perang harga yang dibawah pasaran
  14. Apa  kebiasaan di pasar, bagaimana dengan kebutuhan produk ? (saringan pasar) – ada permintaan meningkat ketika hari raya, dengan menaikkan harga
  15. Apa saja segmen pasar yang berbeda? (saringan pasar) – konsumen langsung dan  distributor, rekanan dari program pemerintah (warung kelontong), warung makan, pengusaha catering.
  16. Apa anda ingin bersaing pada segmen yang berbeda? (saringan pasar) – iya, bersaing pada semua segmen
  17. Mana yang akan tumbuh dan menyusut? (saringan pasar) – usaha akan tumbuh
  18. Siapa pesaing pasar yang ada, mengapa konsumen membeli ke pesaing itu? (saringan pasar) – pesaing dari luar Berau
  19. Apa yang perlu dilakukan untuk membuat pelanggan membeli produk anda? (saringan pasar) – terjaganya kualitas produk, tidak ada telur yang busuk
  20. Margin seperti apa yang akan kita harapkan ? (saringan pasar) – sudah sesuai dengan target BUMK  
  21. Target prioritas pelanggan ? (saringan pasar) – distributor dan warung kelontong (  rekanan pemerintah)
  22. Apakah barang/produk ini sesuai dengan kebutuhan pelanggan? (saringan bisnis) – iya sesuai
  23. Apakah ada varian barang/produk ? (saringan bisnis) – tidak ada varian
  24. Apakah ada masalah dengan produk, terkait harga, layanan dan pemasaran? (saringan bisnis) – tidak ada masalah, hanya masalah kualitas produk karena tergantung dengan musim
  25. Apakah anda perlu mendefinisikan kembali produk ? (saringan bisnis) *)

Kesimpulan dari simulasi BUMK Labanan Makarti :

  1. Usaha pencucian kendaraan  : lolos pada saringan legal tetapi tidak lolos pada saringan passion.
  2. Usaha  peternakan ayam petelur : lolos melalui saringan legal, passion, pasar dan bisnis.

*) : feed back dari Any Sundari, diperlukan bagi usaha-usaha yang terdampak Covid-19, untuk berpikir ulang (merevisi) tentang arah dan strategi bisnis, dalam kondisi force marge atau bencana, dan juga ketika sudah tidak ada penambahan modal usaha dari Pemerintah Kampung.

 Dan diakhir sesion, diumumkan bahwa yang mendapat hadiah merchandise kaos produksi BBI, adalah Dea dari BUMK Labanan Makarti (JUNAEDI -YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 7 :Pemetaan Bentang dan Menganalisis GAB dengan cara Analisis SWOT

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 7 sesi pertama, dilaksanakan Senin, 22 Maret 2021 pukul 08.30 -11.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Rosada Roan Ath-Thariq – salah satu Pamong Kalurahan, tepatnya sebagai  Kepala Dusun Garon Kalurahan Panggungharjo dengan materi Menganalisis GAB dengan cara Analisis SWOT.

Dalam paparannya  Thariq – sebutan Rosada Roan Ath Thariq – mengatakan bahwa Analisis GAB, ini digunakan ketika pada saat merencanakan pembangunan tetapi terjadi kesenjangan  kondisi riil dengan kondisi ideal. Kesenjangan dapat disebabkan oleh beberapa keterbatasan : 1) keuangan Desa 2) bentang alam 3)infrastruktur desa 4)sistem kinerja dan komitmen perangkat desa 5) kondisi sosial budaya.

Dalam Analisis  SWOT meliputi  empat aspek : Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Untuk menentukan perbaikan dan pengembangan arah kebijakan pembangunan, dengan cara pencurahan, diediting/penyaringan, di buat kolom-kolom, dan di dokumentasikan hasil akhirnya menjadi dokumentasi RPJMKal.

Masih menurut Thariq, bahwa Analisis SWOT terdiri dari dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor Internal terdiri dari : Kekuatan (S) dan Kelemahan (W) yang berasal dari dalam pemerintah desa sendiri. Misalnya SDM, sarana dan prasarana, letak wilayah. Faktor Eksternal terdiri dari : Peluang (O) dan Tantangan (T) yang berasal dari luar pemerintah desa, seperti Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Pusat, dan pihak ketiga.

Lebih lanjut  Thariq memaparkan, bahwa dalam analisis SWOT ini dibuatkan lembar kerja dalam bentuk empat kolom.

Kolom pertama (SO) : untuk menetukan arah dan strategi kebijakan untuk mencapai visi dan misi dengan meminimalkan kelemahan dan ancaman dengan memaksimalkan kekuatan sesuai  peluang yang dimiliki.

Kekuatan (S) : SDM yang baik , SDA yang baik.

Peluang (O)  : Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah.

Arah dan strategi kebijakan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo :

  1. Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk menjadikan Panggungharjo sebagai Desa Budaya.
  2. Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk menjadikan Panggungharjo sebagai Desa Bebas Sampah.
  3. Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk menjadikan Panggungharjo sebagai Destinasi Wisata Baru

Kolom kedua (WO) : untuk menetukan arah dan strategi kebijakan untuk mencapai visi dan misi dengan meminimalkan kelemahan dan ancaman dengan menutupi kelemahan dengan peluang yang dimiliki.

Kelemahan (W) :  masyarakat yang masih rendah dalam hal pengelolaan sampah

Peluang (O)        : Bekerja sama dengan PT. Pegadaian

Arah dan Kebijakan Strategis Pemerintah Kalurahan Panggungharjo :

  1. Membuat program Memilah sampah menabung emas dengan bekerja sama dengan pihak PT. Pegadaian.

Kolom ketiga (ST) :  untuk menetukan arah dan strategi kebijakan untuk mencapai visi dan misi dengan memaksimalkan kekuatan  dan meminimalkan ancaman.

Kekuatan (S)    : SDM yang baik, SDA yang baik.

Ancaman (T)    : Teknologi, Pertanian hampir sama desa lain

Arah dan Strategi Kebijakan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo :

  1. Peningkatan kapasitas petani sesuai dengan teknologi terkini agar menghasilkan produksi dan kualitas hasil pertanian yang maksimal
  2. Pemanfaatan teknologi informasi dalam memasarkan hasil pertanian.

Kolom keempat (WT): untuk menetukan arah dan strategi kebijakan untuk mencapai visi dan misi dengan meminimalkan kelemahan dan ancaman.

Kelemahan (W) :  rendahnya budaya membaca

Tantangan (T)    :  teknologi informasi

Arah dan Strategi Kebijakan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo :

  1. Menggerakkan masyarakat untuk melek teknologi informasi dengan mengakses perpustakaan on line.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 7 sesi kedua , dilaksanakan Senin, 22 Maret 2021 pukul 12.30 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh dua mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo – biasa dipanggil Koko – dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Sholahuddin Nurazmy, dengan materi  : Pemetaan Bentang.

Dalam pemaparannya, Sholahuddin Nurazmy – CEO Pasar desa.id – platform digital (online) produk unggulan desa. Ia memulai dari potret keberadaan Bumdes sudah pada angka 5.000-an. Potret Bumdes yang sukses : 1) Visi yang Kuat, Komponen : usaha/produk, calon warisan positif  yang menyenangkan, antara lain memiliki unsur – unsur : disukai, memiliki dampak positif mengatasi masalah, dan  dikenang. 2) Effort yang keras , dengan mengidentifikasi masalah dan menjawab/mengatasi  masalah.

Pemetaan Bentang trediri dari 7 bentang, yaitu : bentang alam,  sosial-budaya, ekonomi, teknologi, pasar, SDM, dan lingkungan.

Manfaat pemetaan bentang  : memberikan dampak positif, memberikan lapangan pekerjaan baru, mengirimkan nilai-nilai luhur yang akan disampaikan.

1. Bentang Alam, membuka lebar-lebar semua potensi sumber daya alam yang ada di desa. Ada aspek yang perlu diperhatikan : aspek topografi,aspek non biotik dan aspek biotik.

2. Bentang Sosial terdiri dari nilai-nilai, perilaku, tata cara.Cara membacanya dengan beberapa pertanyaan: Siapa saja yang peling berkepentingan terhadap keberlangsungan usaha? Dukungan apa saja mereka berikan? Keuntungan apa akan mereka berikan? Bagaimana mereka saling berhubungan? Bagaimana cara mereka mengambil keputusan?Siapa sajakah pihak luar mereka yang memberikan dukungan dan seperti apa dukungan mereka berikan?

3. Bentang Ekonomi. Cara menggalinya dengan beberapa pertanyaan : Bagaiamana kondisi ekonomi masyarakat? Bagaimana dampak usaha bagi perekonomian masyarakat sekitar? Bagaimana trend pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir? Faktor apa yang mendukung pertumbuhan ekonomi?

4. Bentang Teknologi. Cara menggalinya dengan beberapa pertanyaan : Apa saja sumber energi yang tersedia? Bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan energi tersebut?Adakah pengolahan pasca panen? Adakah bengkel inovasi tepat guna?

5. Bentang Pasar. Cara membacanya dengan beberapa pertanyaan : Siapa calon pengguna produk barang/jasa dari usaha yang hendak dilakukan dan berapakah jumlahnya? Siapa saja yang  menjalankan usaha dalam wilayah yang sama?Berapa luas jaringan pasar dari pesaing?

6.Bentang SDM. Cara mengindentifikasinya dengan beberapa pertanyaan : Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang teknis?Adakah SDM yang mempunyai kompetensi dalam bidang manajemen? Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang rekayasa sosial?

7. Bentang Lingkungan. Cara menggalinya dengan beberapa pertanyaan : Bagaiamana pengelolaan sampah dan limbah yang ada? Bagaiamana ketersediaan air untuk kebutuhan komsumsi RT? Apakah dampak usaha bagi lingkungan?

Setelah menggali tentang pemetaan bentang, selanjutnya memilih ide bisnis yang tepat untuk mengeleminasi  ide-ide bisnis yang sudah terpetakan, melalui empat persyaratan sebagai berikut : 1) legal 2) passion 3) pasar 4) bisnis.

Pertanyaan dari Murjani : legal formal (AD/ART) terhadap bisnis yang belum diatur , bisnis berdasarkan asumsi dan bisnis lada yang dikuasai oleh tengkulak ?

Jawaban dari Sholahuddin : Saran yang paling masuk akal adalah merivisi  AD/ART, untuk mendapatkan ide bisnis jangan hanya berdasarkan asumsi saja, Bumdes dapat memotong rantai distribusi sehingga petani dan Bumdes mendapatkan harga terbaik atau harga yang layak.

Any Sundari, menambahkan, berbicara Bumdes lebih punya legalitas dan harus dapat mendapatkan kepercayaan masyarakat dan sekaligus masyarakat dapat merasakan keuntungan dengan keberadaan Bumdes.

Pertanyaan dari Solihin : Pilihan Usahanya membuat pupuk kompos dari jankos atau limbah sawit.

Jawaban dari Sholahuddin : bisnis adalah pilihan. Apabila hanya memilih satu jenis usaha. Tetapi di create lebih mendalam lagi untuk scale up. Profit penting tetapi harus memperhatikan juga benefit kepada masyarakat.

Sharing pengalaman menjalankan usaha, oleh Doni : menjalankan 5 unit usaha BUMK. Dalam menjalankan usahanya tidak terlalu kaku berpedoman dengan AD/ART. Apa yang di lakukan BUMK  kami mengikuti keinginan hati, itu passion menurut Sholahuddin. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Doni itu baik, tetapi menurut Sholahuddin eksperimen-eksperimen usaha itu harus didokumentasikan tentang praktik-praktik baik yang dilakukan oleh BUMK (JUNAEDI -YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 6 :

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 6 sesi pertama, dilaksanakan Kamis, 18 Maret 2021 pukul 08.30 -11.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidni Kafa dan nara sumber Muhammad Hosni Bimo Wicaksono, Kamituwa, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo.

Peserta pertama – yang mempesentasikan lembar tugas pemetaan potensi – dari Pemeritah Kampung Tanjung Batu, menurut Mardani  secara geografis berada di wilayah pantai. Keadaan sungai mengalami kedangkalan. Memiliki dua musim, yaitu  musim panas dan penghujan. Ketika panas sering mengalami kebakaran. Ketika musim penghujan sering terjadi banjir. Potensi ekonomi berupa hasil laut dan wisata mangrove. Teknologi dari PT. Aruna berupa aplikasi GPS yang digunakan nelayan untuk mengetahui kondisi ikan di laut. Baru proses pengajuan pembebasan lahan, apabila dikabulkan akan membentuk Pasar Kampung. Memiliki 5 suku besar.

Peserta kedua oleh Frans Abdullah Mungli, dari Pemerintah Kampung Merabu, secara geografis di kelilingi oleh hutan desa. Potensi ekonomi kebun buah, wisata danau, pegunungan karts,  dan goa. Mempunyai sungai besar dan memiliki cabang-cabang sungai kecil. Beriklim tropis. Curah hujan yang signifikan sepanjang tahun. Memiliki aneka jenis kayu yang didominsi oleh kayu meranti dan kayu ulin. Memiliki satu bidan dan satu perawat, dengan fasilitas mobil ambulance. Pelibatan aktor dari tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemerintahan. Hanya 17% berpenghasilan di atas UMK. Pekerjaan petani, buruh walet, pengrajin. BUMK memiliki usaha-usaha baru, seperti usaha air minum. Listrik sudah mulai merata di Kampung. Ada bea siswa untuk SMP dari Pemerintah Kampung sebesar Rp 600.000/tahun/siswa. SMA sebesar Rp 1.000.000/tahun/siswa. Mahasiswa sebesar Rp 2.000.000/tahun/siswa.

Presentasi selanjutnya oleh Poli Carpus, dari Pemerintah Kapung Tembudan, secara gografis di kelilingi oleh hutan dan perkebunan masyarakat. Berupa hutan mangrove, hutan sawit, hutang lindung  dan pertanian masyarakat. Dataran dekat laut. Cocok untuk pertanian. Terdapat aliran laut dan aliran sungai. Memiliki iklim panas dan dingin. Setiap 13 hari hujan. Keragaman flora terdapat  ulin, meranti, anggrek, sengon, mangrove. Sarana pendidikan PAUD-TK,  SD, dan SMP. Mayoritas lulusan SD. Sarana kesehatan berupa posyandu :  posyandu balita, Posyandu lansia. Pukesmas pembantu (pustu)  dengan satu bidan dan satu perawat. Pelibatan aktor tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemerintahan kampung, seperti Karang Taruna, PKK, BPK, Kepala Kampung dan Aparat Kampung. Kegiatan ekonomi seperti petani, buruh pabrik. IDM Kampung Maju. Produk barang dan jasa, seperti pertokoan (batik dan cinderamata) dan penginapan  (homestay). BUMK memiliki jenis usaha, seperti usaha wisata,  usaha outlet (batik dan cinderamata), dan  homestay.  Kualitas tanah cocok untuk pertanian. Pemerintah Kampung memiliki TPA untuk mengelola sampah masyarakat. Bekerja sama dengan LSM untuk mengelola hutan sosial. Teknologi dan informasi sudah ada jaringan telekomunikasi yang dimiliki oleh PT.Telkom. Ada dua NGO yang bekerja sama dengan Pemerintah Kampung (JUNAEDI-YSID).

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 6 sesi kedua Pelatihan dan Pendampingan Akademi Sigap 2021, dilaksanakan Kamis, 18 Maret 2021 pukul 12.30 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko hadi Purnomo (Koko) dan nara sumber Eko Pambudi, dari BUMDes Panggung Lestari. Dan diikuti oleh 17 BUMK dari Kabupaten Berau , 1 BUMDes dari Kabupaten Kutai Timur dan 1 BUMDes Kabupaten Kutai timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Review Analisa SWOT terlebih dahulu, menurut Koko, apa yang sudah dipaparkan oleh semua peserta terkait Analisis kurang fokus. Salah satu yang digaris bawahi oleh Koko harus fokus kepada tujuan (goal) usaha BUMK/BUMDes : “menambah unit usaha BUMK/BUMDes. Dalam kesempatan ini, masih menurut Koko perlu memilih kontributor yang sesuai, misalnya ahli ekonomi dan ahli riset. 

Selanjutnya kita melakukan rapat FGD, dengan menggunakan matrik Analisis SWOT. Kuadaran I : SO Strenghts Opportunities. Kuadaran II : WO Weaknesses Opportunities. Kuadran III : ST Streghts Threats. Kuadran IV : WT Weaknesses Threats.

Sebagai simulasi adalah  penambahan unit usaha BUMK : Pangkalan Gas LPG 3 kg

S : Strenghts  (Kekuatan) 

  1. SDM yang mampu berjejaring pihak agen
  2. Sarana dan Prasarana yang memadai
  3. Gudang LPG
  4. Lokasi Strategis
  5. Harga Terjangkau
  6. Pelayanan yang memuaskan
  7. Kualitas produk yang terjamin
  8. Distribusi yang relatif cepat dan mudah
  9. Regulasi dan legalitas
  10. Keunikan usaha

W : Weaknesses (Kelemahan)

  1. Strategi pemasaran belum efektif ( belum terjangkau secara luas)
  2. Sistem administrasi dan pembukuan masih konvensional
  3. SDM yang menangani keluar masuk
  4. SDM belum sesuai kebutuhan
  5. Kurangnya analisa pasar
  6. SOP Pelayanan yang masih kurang
  7. Keterlambatan Stok
  8. Keuntungan tidak maksimal
  9. Modal terbatas
  10. Kualitas stok barang yang tidak sesuai

O : Opportunities ( Peluang )

  1. Jaminan pasar masih cukup luas
  2. Jaminan kualitas produk
  3. Jejaring dengan pangkalan
  4. Tidak ada pesaing
  5. Jaminan kepercayaan
  6. Jaminan stok
  7. Menggandeng investor

T : Threats (Ancaman)

  1. Retribusi liar
  2. Kompetitor liar
  3. Rawan terjadi manipulasi stok produk
  4. Kerawanan pencabutan ijin dari pihak ketiga

Strategi Kuadara I (SO) :

  1. Dengan adanya sarana dan prasarana yang cukup kita akan mengajak kerja sama investasi (2.7)

Strategi kuadran II (WO) :

  1. Open rekrutmen untuk memenuhi kebutuhan SDM agar tidak gonta ganti  sekaligus untuk memenuhi  jaminan pasar yang cukup luas. (3,4.1)

Strategi Kuadaran III (ST)

  1. Perlunya regulasi dan legalitas untuk menganttisipasi kerawanan terjadi manipulasi stok produk (9.3)

Strategi Kuadran IV (WT)

  1. Memperbaiki sistem administrasi dan pembukuan untuk menghindari pencabutan ijin dari pihak ketiga (2.4) (JUNAEDI-YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 5 :

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 5 hanya satu sesi saja, dilaksanakan Senin, 15 Maret 2021 pukul 12.00 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh dua mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo – biasa dipanggil Koko – dan Any Sundari. Serta bertindak sebagai nara sumber adalah Eko Pambudi, dari Bumdes Panggung Lestari, dengan topik masih seputar Analisa SWOT. Hadir pula, Adhit Mahendra Putra selaku Manager Program dalam Program Pelatihan dan Pendampingan Akademi Sigap 2021.

Analisa SWOT lebih difokuskan kepada unit usaha BUMDes atau BUMK. Masing-masing BUMDes/BUMK lebih mengeksplor tentang unit usaha, permasalahan yang dihadapi dan strategi menjalankan usahanya. Peserta pertama, bernama Hermawan, dari BUMK Bugisunan, menceritakan bahwa BUMKnya mempunyai unit usaha terdiri dari : Wisata Mangrove, Jasa Simpan Pinjam, dan Pasar. Tetapi ada kendala sejak adanya pandemi Covid-19 wisata mengalami tutup untuk sementara.

Peserta Kedua, Doni dari BUMK Lebok Asik, mengeksplor unit usaha BUMK terdiri dari : Usaha Ternak Sapi, Wisata Peminat Khusus, Air Bersih, dan POM Mini. Kendala yang dihadapi untuk Wisata Alam tutup sementara akibat adanya pandemi Covid-19, saat ini baru pembenahan infrastruktur (penginapan). Sementara untuk POM Mini masih mengalami kendala dalam hal perijinan dan jauhnya akses jalan ke Kampung. Sedangkan untuk Ternak Sapi berdasarkan musyawarah dengan Pemerintah Kampung dan BPK, memutuskan untuk meneruskan usaha ternak sapi dan akan bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Timur. Secara progres unit usaha air minum mengalami kenaikan omset yang semula omset 2.000.000/bulan menjadi 7.000.0000/bulan.

Peserta ketiga, Bukhori dari BUMK DKI Manis, hanya menyebutkan satu unit usaha yang berjalan yaitu Unit Simpan Pinjam dan berencana akan membentuk Unit Saprodi. Peserta selanjutnya, Haryani dari BUMK Teluk Semanting mengeksplor unit usaha BUMKnya yang terdiri dari : Unit Penjualan Amplang dan Kerupuk, Unit Pariwisata,  Unit Penyewaan Tarub. Terkait kendala yang ditemui untuk unit penjualan Amplang dan Kerupuk adalah terkait kemasan produk dan labelisasi halal. Sementara untuk unit pariwisata terkendala terkait penentuan besaran tarif, akhinya pengelola berinisiatif kotak retribusi – semacam kotak infaq seikhlasnya – yang ditaruh di depan pintu masuk, untuk saat ini tutup sementara karena adanya pandemi Covid-19.

Peserta selanjutnya , dari BUMK Labanan Makmur, memaparkan satu unit usaha BUMKnya yaitu Peternakan Ayam Petelur. Kendalanya adalah mahalnya harga pakan dan SDM yang menangani peternakan ayam petelur. Oleh karena itu, BUMK ini akan melebarkan sayapnya dengan membentuk unit baru yaitu Unit Pengolahan Pakan Mandiri, harapannya memperoleh harga pakan yang lebih murah dan pemberdayaan kepada warga masyarakat untuk mengolah hasil pertanian warga.

Menurut Zulfikar, dari KampungTembudan, menuturkan beberapa unit usaha BUMK yang terdiri dari : Unit Wisata Danau, Unit Usaha Batik, Unit Usaha Outlet. Untuk mendukung usahanya pengelola melakukan strategi dengan menggunakan aplikasi dalam melaporkan administrasi dan keuangan serta melakukan peningkatan kapasitas  seperti pelatihan pelatihan sablon. Karena kondisi pandemi Covid-19 untuk semua usaha tidak berjalan atau tutup sementara.

Menurut Jumono, dari BUMK Mandiri Jaya Abadi, menyampaikan dua unit usaha BUMK ini yaitu Unit Simpan Pinjam dan Unit Lapak (Pasar). Kendala yang dialami untuk untuk simpan pinjam adalan banyaknya yang meminjam daripada yang menyimpan, pengajuan pinjaman terlalu besar. Untuk unit lapak terkendala adanya pandemi Covid-19, penyewa lapak mengundurkan diri. Strategi yang akan dilakukan akan menambah modal usaha unit simpan pinjam, sedangkan untuk mengantisipasi pedagang yang pada mengundurkan diri, apabila tidak ada yang berminat menyewa lapak-lapak akan digunakan sendiri oleh BUMK.

Sementara menurut Harman, dari Batiwakal, mengeksplor unit usaha BUMKnya yang terdiri dari : Unit Pengelolaan Pasar, Unit Pengelolaan Sampah, Unit Pengadaan Barang dan Jasa, Unit Kerajinan Kayu dan Unit Usaha Batik. Kendala yang dihadapi untuk unit kerajinan kayu mesin-mesin yang digunakan menggunayakan daya listrik yang besar, sementara listrik yang ada belum mampu untuk mengalirkan daya listruk yang dibutuhkan. Sementara untuk usaha batik BUMK hanya reseller (menjualkan) dari produk batik yang ditekuni oleh ibu-ibu PKK.

Pemaparan oleh Maesaroh, dari Labanan Makmur, menyebutkan ada tiga unit usaha BUMK nya yang ia ketahui, yaitu Unit Pengelolaan Pasar, Unit Pengelolaan Sampah dan Unit Penyewaan Gedung Serba Guna. Kendala utamanya adalah terkait struktur organisasi BUMK.

Dewi Kartika Sari, dari Harapan Jaya, memaparkan unit usaha BUMKnya yaitu terdiri dari Unit Usaha Pasar, dan Unit Usaha Pertanian. Dalam penentuan unit usaha mereka lakukan dengan melihat potensi desa, kebutuhan masyarakat, dan sinkronisasi usaha dengan potensi desa dan kebutuhan masyarakat.

Eko, menanggapi pemaparan dari semua peserta dengan menggaris bawahi bahwa strategi apa yang akan dilakukan oleh BUMK untuk tetap eksis di tengah pandemi Covid-19, perlu skala prioritas unit mana yang perlu di push. Dengan pendekatan alat Analisis SWOT harapannya dapat memetakan potensi desa dan mengurangi risiko bisnis yang tidak kita inginkan. Dalam menentukan usaha, agar mampu bersaing dengan kompetitor yang sejenis yang membedakan kita adalah pada value atau nilai produk.

Menurut Aditya Mahendra Putra, bahwa desain Pelatihan dan Pedampingan Akademi Sigap 2021 disesuaikan konteks yang dihadapi oleh BUMDes/BUMK. Metode yang pertama menggunakan Analisis SWOT, kemudian nanti nantinya banyak metode untuk mengoptimalkan jenis uasha yang dijalankan setelah di analisa. Ada alat yang digunakan selanjutnya, seperti 3P, SCAMPER. Ia menggaris bawahi, usaha yang tidak dapat dilakukakan dengan mengedepankan instiusi bisnis, tetapi instiusi ini harus di validasi terlebih dahulu secara komprehensif. Termasuk skala risiko yang meliputi risiko operasional dan risiko keuangan.

Any Sundari, menambahkan dengan mempertanyakan apakah dasar yang digunakan oleh BUMK dalam menentukan usahanya? Apakah hanya menggunakan insting bisnis saja ataukah sudah melakukan studi banding dengan mengamati usaha serupa di tempat lain.

Di akhir acara ini, Koko menyimpulkan bahwa dari pemaparan dari semua BUMDes/BUMK dalam menjalankan usaha/bisnisya belum ada yang menggunakan alat evaluasi berupa Analisis SWOT (JUNAEDI, YSID).

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 5 bagi Pemerintah Kampung atau Pemerintah Desa, mundur dilaksanakan yang seharusnya Senin, 15 Maret 2021 diundur Selasa, 16 Maret 2021 pukul 08.30 -12.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh dua mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa – biasa dipanggil Zidny – dan Any Sundari. Serta bertindak sebagai nara sumber adalah Muhammad Hosni Bimo Wicaksono, dari Kamituwa Pemerintah Kalurahan Panggungharjo, melanjutkan topik sebelumnya, yaitu pemetaan bentang . Dalam webinar sebelumnya telah disampaikan tiga macam bentang yaitu bentang alam, bentang sosial-budaya dan bentang ekonomi. Selanjutnya pada sesi kali ini, meneruskan empat bidang sisanya, yang terdiri dari bentang lingkungan, bentang teknologi, bentang pasar, dan bentang SDM.

Menurut Bimo –panggilan akrab Muhammad Hosni Bimo Wicaksana – bentang lingkungan dapat digali dengan beberapa pertanyaan kunci, seperti :”Bagiamana pengelolaan sampah dan limbah yang ada?, Bagaimana ketersediaan air untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga?, Apakah dampak usaha bagi  lingkungan?

Lebih lanjut ia memaparkan untuk bentang tekonologi dapat digali melalui beberapa pertanyaan kunci sebagai berikut : “Apa saja sumber energi yang tersedia?, Bagaimana cara masyarakat memenuhi kebutuhan energi tersebut?, Adakah teknologi pasca panen?, Adakah bengkel inovasi teknologi tepat guna?”

Ia menambahkan sedangkan bentang pasar dapat di peroleh dengan beberapa pertanyaan kunci, seperti : “Siapa saja calon pengguna dari produk barang /jasa yang hendak dilakukan dan ada berapakah jumlahnya?, Siapa saja kompetitor yang menjalankan usaha dalam wilayah yang sama?, Berapa luas jaringan dari kompetitor kita?”

Masih menurut Bima, yang terakhir adalah bentang SDM. Bentang SDM ini dapat dipetakan melalui beberapa pertanyaan kunci pula, yaitu : ”Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang teknis?, Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang manajemen?, dan Adakah SDM yang mempunyai kompetensi dalam bidang rekayasa sosial?”

Kemudian semaua peserta mempresentasikan pemetaan bentang. Adapun hasil pemetaan bentang para peserta, tidak dapat dituliskan disini dikarenakan terlalu panjangnya pemetaan bentang dari para peserta yang lebih kepada data monografi desa.

Terkait hasil pemetaan potensi bentang para peserta ini, Any Sundari selaku mentor mengkritisi terkait perbedaan antara pemetaan bentang dengan data monografi desa. Bahwa data monografi sebagai salah satu sumber dari pemetaan bentang memang betul, tetapi pemetaan berdasarkan bentang yang telah dilakukan oleh suatu tim harus dibukukan tersendiri menjadi dokumen perencanaan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Desa atau Pemerintah Kampung yang berdasarkan skala prioritas dan mitigasi bencana (JUNAEDI, YSID).

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 4 : analisa SWOT

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 4 sesi pertama, sebagai kelanjutan seri 3  Senin kemarin, 8 Maret 2021, dilaksanakan Kamis, 11 Maret 2021 pukul 09.00 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh Mohammad Hosni Bimo Wicaksono Selaku Kamituwa Kalurahan Panggungharjo sebagai nara sumber, dua mentor virtual lainya  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Mohammad Zidny Kafa dan Any Sundari.

Pada Sesi pertama kali ini, tidak ada pemamparan materi dari nara sumber,  Bimo –sapaan akrab – dari Mohammad Hosni Bimo Wicaksono,  hanya memberikan feed back terhadap dua orang masing-masing dari Kampung Melati  Jaya, dan dari Kampung Sungai Payang yang mempresentasikan apa yang menjadi penugasan sesi sebelumnya, yaitu membuat Sketsa Desa.

Menurut presentasi yang disampaikan dari Kampung Melati Jaya, tentang Sketsa Desa atau Kampung. Penduduk kurang lebih 500 Kepala Keluarga, Pendidikan sebagian besar tamatan SD, lulusan S1 (Sarjana) keluar kampung. Mata pencaharian warganya sebagian besar bertani dan perkebunan. Hasil tanamannya adalah lada dan padi. Pemuda sebagian besar bekerja pada perkebunan. Mempunyai bangunan fisik dianataranya masjid, gereja, perkantoran (Pemerintah kampung), sekolah, lapangan sepak bola. Fasilitas PLN sudah masuk tetapi belum adanya PDAM. Belum memiliki pasar, maka mendorong BUMK untuk mengelola hasil pertanian lada, karena hasil panen ada saigannya yaitu para tengkulak. Hasil Padi belum begitu maksimal. Sudah ada 13 Kelompok Tani yang sudah berakta notaris, dan gapoktan. Dari sisi sosial budaya terdiri dari 5 Suku, yaitu Jawa, Bugis, lombok, NTT, dan Sunda. Terkait agama ada 3 agama, yaitu Islam, Kristen dan Katholik.

Sedangkan presentasi yang disampaikan dari Kampung Sungai Payang, tentang Sketsa Desa secara lebih rinci ada infrastruktur yaitu jalan-jalan yang sudah bagus, Sekolah (PAUD, SMP,SMA), Masjid, gereja. Ada kendala terkait bangunan rumah warga yang terlalu mepet jalan, dan ini menjadi PR akses perencanaan jalan ke depan. Sebagian besar alamnya berupa persawahan, Sungai-sungai. Listrik (PLN) sudah masuk kampung, terjadi PDAM belum ada . Penduduk terdiri dari kurang lebih 400 Kepala Keluarga.Pendidikan warganya sebagian besar adalah tamatan SD dan SMP. Mata Pencaharian warga sebagian besar berladang. Ada beberapa aktivitas perusahaan sawit dan perkebunan, dan pertambangan. Sudah memiliki pasar malam setiap malam Minggu. BUMDesnya mempunyai 13 Unit usaha yang sudah beromset diatas Rp 7 milyar dalam setahun, dengan keuntungan diatas Rp 600 juta. Kendala BUMDesnya adalah ada beberapa unit usaha BUMDes, mandegnya pembangunan Pabrik Kompos. Dari sisi sosial budaya terdiri dari 5 Suku, antara lain Kutai, Dayak (Tanjung dan Benua), Banjar, Bugis dan Jawa.

Menanggapi dari Kampung Melati Jaya, Bimo menambahkan dalam membuat sketsa desa harus lebih detailkan lagi termasuk akses jalan, batas-batas wilayah. Apakah  ada bangunan yang menunjang kesehatan. Sedangkan untuk  Kampung Sungai Payang, sudah bagus.

Muhammad Zidny Kafa, menambahi terkait sketsa desa, kalau merujuk Permendagri Nomor 114  Tahun 2014, dapat dilihat dari tiga faktor yaitu sketsa desa, kalender musiman dan bagan kelembagaan. Semua yang bisa diceritakan terkait Kampung di tuliskan dalam lembar kerja.

Sedangkan menurut Any Sundari, sketsa desa tidak hanya dilihat dari secara fisik saja, tetapi non fisik harus dilihat semuanya jangan ada yang terlewatkan. Any, juga menyoroti apakah di Kampung Melati Jaya, sudah ada perhutanan sosial.

Sesi Kedua

Sesi kedua – dilaksanakan pada hari yang sama – pada hari Kamis, 11 Maret 2021 :  jam  12.00 – 14.00 WIB, di dampingi oleh Eko Pambudi juga di fasilitasi dua mentor virtual dari Yayasan Sanggar Inovasi Desa, yaitu Joko Hadi Purnomo dan Any Sundari, presentasi materi analisa SWOT.

Presentasi pertama, dari BUMDes DKI Manis, Karangan Ilir.

  1. Kekuatan
  2. Dukungan Pem Des, BPD dan masyarakat
  3. Peliabatan pengelola BUMDes/BUMK dalam kegiatan desa
  4. Ada dukungan dana desa
  5. Pelibatan Pem Des dalam proses kegiatan BUMDes/BUMK
  6. Kelemahan
  7. Minimnya frekuensi pertemuan/ rapat
  8. Rendahnya kapasitas pengelola BUMDes/BUMK
  9. Pengelola BUMDes belum totalitas dalam menjalankan usaha BUMDes
  10. Ketidak aktifan pengelola BUMDes/BUMK
  11. Belum adanya SOP
  12. Belum jelasnya pembagian tugas, fungsi dan wewenang pengelola
  13. Kurang fahamnya pengelola BUMDes/BUMK dalam menyusun AD/ART BUMDes/BUMK
  14. Peluang
  15. Potensi usaha yang dapat dikembangkan yaitu Potensi Wisata Alam
  16. Usaha yang dapat mendukung adanya Perusahaan Sawit
  17. Budi daya sayur dengan cara Hidroponik
  18. Pembangunan Instalasi Air Minum
  19. Kemungkinan kerja sama dengan pihak ketiga (investor)
  20. Galeri usaha (outlet) untuk oleh-oleh bagi wisatawan
  21. Ancaman
  22. Adanya Pandemi Covid-19
  23. Daya beli masyarakat yang menurun
  24. Perubahan Kebijakan Kepala Desa/Kampung yang baru
  25. Kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes/BUMK menurun
  26. Adanya konflik kepentingan antarpengurus BUMDes/BUMK
  27. Tidak ada aturan yang mendukung program BUMK
  28. Adanya kompetitor yang sama bidang usaha BUMK

Dan akhirnya, hasil presentasi BUMDes DKI Manis, menjadi bahan untuk berdiskusi  semua BUMK  dan hasil analisa diatas adalah hasil analisa SWOT kolektif peserta webinar.

Eko Pambudi menggaris bawahi, bahwa dengan belajar analisa SWOT bagi pengelola BUMK  kesimpulan bahwa kita menjadi tahu apa kekurangan atau yang belum dilakukan oleh BUMK yang kita jalankan selama ini. Apabila ada peluang untuk mengembangkan BUMK ke depannya, maka selanjutnya membuat proposal dan analisa kelayakan usaha, yang akan kita ajukan kepada Pem Kam.  (JUNAEDI, YSID).