Berita

Tetap Produktif dari Desa di Kala Pandemi

Sudah lebih dari setahun virus COVID-19 singgah di tanah air. Kita dipaksa mengikuti kemauan virus untuk tidak boleh sering-sering berinteraksi bersama banyak orang dengan harapan dapat memberi rasa aman dan perlindungan terhadap orang terkasih yang rentan. Tindakan yang memang sungguh terpuji, sebuah bentuk bakti diri kepada orang tua atau sebuah bentuk kasih sayang tak terhingga kepada anak. Sayangnya, tindakan mulia itu tidak dapat terhindar dari keresahan, takut-takut terlalu lama di rumah membuat perut kekurangan asupan, pun khawatir apabila situasi sekarang bisa jadi manusia yang individualis dan egois akibat jarangnya interaksi dengan hal-hal yang ada di luar rumah.

Patut disyukuri perkembangan teknologi digital benar-benar jadi penolong atas keresahan dua hal tersebut. Pandemi ini mengajak kita ikut masuk dalam cepatnya arus perkembangan teknologi, bahkan desa-desa yang identik dengan ketradisionalannya, perlahan dan pasti mereka mulai berkenalan dengan namanya teknologi digital. Ditambah lagi, datangnya pandemi membuat pemerintah berinisiatif memberikan fasilitas yang memadai, contohnya saja Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berniat membangun infrastruktur digital di 12.508 desa tertinggal. Secara tidak langsung kondisi ini banyak aspek kehidupan harus menyelaraskan langkah dengan cepatnya perkembangan teknologi digital. Kini, tidak sedikit desa yang melek teknologi dan kira-kira apa saja yang bisa kita lakukan dari desa dengan memanfaatkan jejaring sosial internet selama pandemi?

Membuat Marketplace

Perubahan pola kehidupan yang begitu dinamis di tengah pandemi melatih kemampuan kita untuk beradaptasi dengan cepat. Bagaimana tidak? Sebuah virus yang tanpa permisi dengan ukuran lebih kecil daripada nyamuk yang kita sulit tabok pada malam hari dapat membuat kacau tanah air, tidak hanya tanah air, tapi seluruh penjuru dunia. Terekam jelas diingatan kala awal pandemi, orang benar-benar bertahan di dalam rumah, tentu saja tidak lepas dari pikiran-pikiran cemas akan kedepannya. Nampaknya pikiran cemas tidak melulu berujung buruk, sebuah desa di Bantul yaitu Desa Panggungharjo dengan cepat mampu beradaptasi dalam situasi yang mencekik. Berangkat dari lumpuhnya ekonomi desa, pemerintah desa ingin membangkitkan lagi kerja sama antar sesama warga dan BUMDES melalui start up yang bergerak di bidang perekonomian alias bahasa gaulnya, market place sehingga ekonomi tetap berjalan dari rumah.

Merancang Edukasi Berbasis Teknologi

Kalau kita pergi sedikit lebih jauh dari pusat kota, kita akan menjumpai daerah dengan hamparan hijau yang masih mendominasi, daerah tersebut adalah Desa Tinalah, letaknya berada di Kabupaten Kulon Progo. Karateristik yang bisa dikatakan seperti pegunungan dengan cuaca dingin dan dilewati oleh aliran sungai yang jernih, para pegiat Desa Tinalah bersama BUMDES menyadari keunggulan tersebut dan tercetuslah ide menjadikan desa wisata dan bumi perkemahan di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Mengingat keadaan sekarang ini, dapat dibayangkan bagaimana sektor pariwisata dibuat tak berdaya oleh pandemi, pun hal itu begitu dirasakan oleh pengelola. Meski dalam keadaan yang serba kesulitan, namun tampak ada kelapangan dada atas peristiwa ini, bagi Galuh Fahmi selaku pengelola Desa Wisata Tinalah, pandemi ini memberi waktu untuk beristirahat dan menyisihkan waktu membangun relasi. Galuh Fahmi menjelaskan, ketika hari-hari sebelum pandemi waktu sudah habis digunakan menerima tamu, dengan adanya pandemi paling tidak ada waktu memikirkan inovasi-inovasi lain untuk mengembangkan desa wisata. Hasil dari merenung dan berpikir selama kurang lebih hampir setahun, Desa Wisata Tinalah merancang sebuah gagasan cemerlang, yakni ingin menciptakan outbond edukasi berbasis teknologi dengan Artificial Intelligence (AI). Cara kerjanya tidak jauh berbeda dengan permainan Pokemon Go, yang membuat beda hanya pada objek yang dicari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *