Berita

Gerakan Bantul Tangguh, Sebuah Inisiasi dari Desa Menghadapi Pandemi

Melonjaknya kasus aktif virus corona (Sars-COV2) beberapa pekan terakhir terjadi di banyak daerah, terutama di Pulau Jawa. Hampir seluruh wilayah Pulau Jawa menjadi zona merah akibat penyebaran virus yang tidak terkendali.  Menurut pemaparan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono tiga varian mutasi corona yang berasal dari India, Inggris, dan Afrika ditemukan di Tanah Air. Diduga peningkatan kasus terjadi akibat mobilitas yang mulai tinggi dan perubahan pola varian virus secara mutasi.

Untuk menghadapi tingginya penularan akibat mutasi virus dan banyaknya kasus aktif yang sudah tercatat, baik pemerintah pusat hingga pemerintah daerah memulai mempersiapkan diri menangani skenario terburuk atas permasalahan ini. Ketanggapan dalam merespon virus yang semakin menggila ditunjukan oleh desa-desa dan lembaga supra desa di Bantul. Mereka bersinergi menginisiasi gerakan Bantul Tangguh agar pasien yang terpapar corona dengan tanpa gejala sampai dengan gejala berat dapat ditangani semaksimal mungkin.

Proses penanganan yang dilakukan Bantul Tangguh berawal dari laporan masyarakat yang diterima Dinas Kesehatan Bantul. Laporan tersebut akan diteruskan ke Pusat Pelayanan Masyarakat (Puskesmas) dan Panggung Tanggap Covid supaya pasien dapat diklasterisasikan sesuai dengan gejala yang dirasakan. Apabila keadaan orang yang terjangkit corona mengalami gejala berat atau sedang, pihak puskesmas akan merujuknya ke rumah sakit atau shelter kabupaten. Sedangkan, Bantul Tangguh akan menangani orang yang terpapar corona dengan gejala ringan dan orang tanpa gejala.

Gerakan Bantul Tangguh nantinya akan dibantu dan membantu dinas kesehatan serta puskesmas untuk memantau keadaan pasien yang sedang melakukan isolasi mandiri. Bantuan lain dari adanya Bantul Tangguh berupa menyediakan shelter desa bagi yang bergejala ringan dan tanpa gejala guna mencegah pemburukan kondisi pasien, selain itu, penyediaan shelter sangat berguna dalam mengurangi kekeliruan isolasi mandiri yang menyebabkan adanya kluster keluarga.

Pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah serta pasien yang sedang isolasi di shelter desa akan terus dipantau kesehatannya oleh tim medis dari puskesmas setiap hari dan secara berkala. Gerakan Bantul Tangguh memahami  bahwa masyarakat sering khawatir kesulitan mendapat logistik ketika isolasi karena sama sekali tidak diperbolehkan keluar. Hal itu direspon betul dengan dibentuknya divisi yang mendistribusikan logistik untuk menjamin pasokan gizi warga terpenuhi dengan baik. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *