BeritaImplementasi Akademi Kampung SIGAP

Keselarasan Masyarakat dan Pemerintah Kampung di Tembudan

Setelah Kampung Biduk-biduk, Kampung Tembudan yang merupakan bagian dari Kecamatan Batu Putih di Berau, Kalimantan Timur, menjadi tujuan kedua pelatihan dan pendampingan yang penyelenggaraannya dilakukan selama dua hari yakni pada tanggal 24—25 Mei 2021.  

Menurut pemaparan dari pemerintah kampung, terdapat tiga belas suku yang mendiami yakni Suku Jawa, Suku Batak, Suku Dayak, Suku Nias, Suku Banjar, dan lain-lain. Hal tersebut menggambarkan sesuatu yang menarik dan keberagaman yang ada menjadi salah satu pilar harmonisasi masyarakat.

Antusiasme atas diadakannya pelatihan ditunjukan dengan kehadiran sekretaris kampung, kepala urusan kampung, Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), dan beberapa warga yang menjadi perwakilan dari masyarakat. Keberlangsungan acara pada hari pertama terbilang lancar sehingga tercetus ide-ide yang diharapkan dapat menangani probematika yang dihadapi pemerintah kampung dan BUMK serta mendeteksi potensi-potensi yang masih tersembunyi untuk mendayagunakan kekutan yang mereka miliki.  

Potensi yang sangat tampak dari Kampung Tembudan berada di sektor pariwisata. Bersumber pada pelatihan yang sudah dilakukan didapati bahwa pemerintah kampung bersama BUMK sedang dalam rencana mengusulkan 42 lokasi pariwisata. Pariwisata yang tersebar cukup variatif karena terdiri dari wisata alam, wisata budaya, dan wisata religi.

Terdapat satu lokasi pariwisata yang sudah ditemukan dan berpotensi besar untuk dikembangkan yakni Danau Tulung Ni Lenggo. Dapat dikatakan Danau Tulung Ni Lenggo adalah tempat untuk wisata keluarga. Hal itu dikarenakan rata-rata pengunjung yang datang adalah rombongan keluarga, namun jelasnya Danau Tulung Ni Lenggo tidak memiliki target wisata yang tertentu dan eksklusif. Untuk biaya masuk tercatat ekonomis, dengan membayar Rp15.000,00 per orang sudah dapat menikmati keindahan Danau Tulung Ni Lenggo. Omset yang diperoleh berkisar antara 19—20 juta pertahun.

Unit-unit usaha yang ada di Kampung Tembudan secara aktual belum bersinergi dengan BUMK, namun sejauh ini BUMK masih terus mengupayakan untuk menggandeng mereka. Langkah-langkah konseptual yang ingin dikerjakan adalah melakukan kerjasama antara unit usaha yang saling berhubungan. Mengingat sektor pariwisata merupakan unit usaha yang berpotensial sehingga memunculkan gagasan-gagasan untuk berintegrasi dengan gerai produk warga. Pernyataan tersebut didukung oleh fakta bahwa sebagian besar gerai produk warga bergerak dalam bidang penjualan cendera mata. Selain membantu menemukan ide-ide yang bersifat abstrak, pelatihan yang diadakan Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berusaha mendampingi Kampung Tembudan untuk mengarahkan kepada langkah-langkah yang lebih konkret.
(Penulis : Agesti Siwi Prabantari)

(sumber foto: https://tembudan-berau.desa.id/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *