BeritaImplementasi Akademi Kampung SIGAP

Danau Labuan Cermin yang Mendunia di Kampung Biduk-biduk, Berau, Kalimantan Timur

Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan pelatihan dan pendampingan luring tahap kedua Implementasi Akademi Kampung SIGAP. Pelatihan dan pendampingan luring tahap kedua ini diikuti dua belas kampung di Berau, Kalimantan Timur. Pelatihan tersebut akan diselenggarakan selama lima belas hari berturut-turut yang dimulai pada tanggal 21 Mei—5 Juni 2021. Sebelum diadakan pelatihan para fasilitator sudah melakukan observasi yang bertujuan untuk mengetahui segala potensi dan probematika yang dihadapi kampung-kampung di setiap kecamatan.

Kampung Biduk-biduk menjadi yang pertama kali mendapatkan agenda pelatihan dengan didampingi oleh Aditya Mahendra Putra sebagai fasilitator dari YSID. Setelah melakukan observasi secara menyeluruh di Kecamatan Biduk-biduk tampak hasil yang cukup potensial di sektor pariwisata akan tetapi potensi-potensi yang tersedia belum digali sepenuhnya.

Sampai saat ini potensi yang sudah mendapat atensi dari pemerintah kampung maupun Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) ialah Danau Labuan Cermin yang letaknya di Kampung Biduk-biduk, Kecamatan Biduk-biduk. Fakta unik yang menjadi sorotan dari wisata ini karena adanya dua jenis air dalam satu danau yakni pada bagian atas danau terdapat air tawar sedangkan bagian bawah berisikan air asin serta terkenal dengan keindahan warna airnya.

Popularitas pariwisata di Biduk-biduk tidak hanya memiliki nama di mata wisatawan lokal, eksistensinya sudah tekemuka di kancah mancanegara dan pengelolaannya berada di bawah BUMK. Potensi pendapatannya terbilang tinggi ketika libur panjang, menurut observasi yang telah dilakukan, Danau Labuan Cermin akan meraup sekitar seribu pengunjung dalam satu hari dan untuk harga masuknya dipatok Rp150.000,00 per orang.

Keuntungan bersih yang didapat BUMK dari hasil pariwisata sebesar Rp40.000,00 per hari, sebagian sisa pendapatan tersebut digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Sampai saat ini besarnya pendapatan yang diperoleh belum mampu memberikan sumbangsih ke kampung maupun perputaran ekonomi ke warga yang lebih luas. Hal itu disebabkan manajemen keuangan pariwisata yang belum berjalan dengan baik.

Adapun kendala lain yang menjadi tantangan bagi perkembangan pariwisata di Danau Labuan Cermin yakni mengenai strategi pemasaran dan akses jalan. Terkait pemasaran masih sangat bergantung dengan artikel dan berita yang dibagikan melalui media sosial, melalui hal ini ditemukan fakta yang menjadi alasan Danau Labuan Cermin cukup mendunia sebab sekitar 80% artikel ditulis oleh wisatawan mancanegara.

Agen-agen wisata baik dari Kalimantan ataupun Jakarta yang menyasar wisatawan luar negeri tidak jarang memasukan paket wisata Danau Labuan Cermin sebagai destinasi. Untuk permasalahan yang berhubungan dengan kondisi akses jalan, pemerintah kampung sendiri tidak dapat berbuat banyak, pasalnya akses tersebut merupakan jalan kabupaten sehingga wewenang perbaikan berada di tangan pemerintah kabupaten.

Banyaknya pantai di Biduk-biduk menjadikan sektor perikanan menjadi komoditas andalan yang berpotensial selain sektor pariwisata, bahkan unit usaha ini termasuk salah satu pendukung di pasar Samarinda dan Balikpapan. Kapasitas produksi tercatat cukup besar dan sudah memiliki dermaga sendiri namun sistem pengelolaan belum optimal.

Sesuai dengan informasi yang didapatkan bahwa aset tersebut dibangun oleh dinas perikanan dan akan diserahkan kepada kampung. Ketika dermaga ini sudah diserahkan maka pengelolaannya berada di bawah otoritas BUMK. Fungsi lain dari dermaga tersebut yakni sebagai tempat bongkar muat ikan sebelum akhirnya didistribusikan ke pasar. Untuk proses pendistribusian dikenakan biaya retribusi sebesar Rp20.000,00 per pick up. Jika keadaan panen ikan sedang bagus pendapatan per minggu dari biaya retribusi kurang lebih mencapai Rp20.000,000,00 hal itu dikarenakan ada sekitar seribu pick up yang melakukan pendistribusian setiap minggu.

Pada proses pelatihan dan pendampingan ditemukan ide-ide menarik yang dapat meningkatkan potensi yang sudah ada serta membangun potensi-potensi baru di Biduk-biduk. Kendati demikian ide-ide tersebut belum dibahas dalam forum pelatihan karena tahap awal yang dilakukan fokus memperbaiki sistem manajemen dengan tujuan pengelolaan internal yang berjalan dengan optimal akan memberikan dampak yang baik bagi ke depannya. Pemerintah kampung menyambut positif dengan diadakannya pelatihan yang memiliki manfaat untuk meningkatkan kemampuan manajemen BUMK. Terkait pendampingan yang dilakukan, tidak terkait dengan project based. Oleh karena itu, ketika pelatihan telah berakhir YSID tetap membantu kampung Biduk-biduk serta kampung-kampung lain yang didampinginya ketika ada kendala-kendala lain.
(Penulis : Agesti Siwi Prabantari)

(sumber foto: https://ksmtour.com/media/images/articles13/danau-labuan-cermin-kalimantan-timur.jpg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *