Berita

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 10 : Review materi Analisis GAB 2 (Sharing session)

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 10 sesi pertama Pelatihan dan Pendampingan Akademi Kampung Sigap, dilaksanakan Kamis, 01 April 2021 pukul 08.30 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa dan Any Sundari, serta bertindak sebagai nara sumber Rosada Roan Ath-Thariq – salah satu Pamong Kalurahan – tepatnya sebagai Kepala Dusun Garon Kalurahan Panggungharjo dengan Review materi Analisis GAB 2 (Sharing session).

Peserta pertama, dari Pemerintah Kampung Maluang memaparkan lembar Analisis SWOT.

Kekuatan :

            1. Kapasitas Aparatur Kampung yang memadai, Pendidikan rata-rata S1

            2. Wilayah dan SDA yang subur

            3. Listrik dan Internet

            4. Pekerjaan : Petani dan berkebun

            5. Peletakan batu pertama pembangunan PDAM

Kelemahan :

            1. Masih adanya jalur usaha tani yang belum memadai

            2. Belum adanya air bersih (PDAM)

Peluang :

  1. Gotong royong dan rasa kebersamaan masih kuat
  • Jarak antar kampung dengan ibu kota yang dekat

3.   Jalur poros utama: ibu kota kecamatan dan ibu kota provinsi

      4.   Merupakan ring kesatu tambang batu bara, peluang tenaga kerja atau CSR

5.   APL(non kawasan ) di kelola oleh warga Kampung Maluang

Ancaman :

            1. Ada Pendatang dari luar Kampung akan memberikan perubahan

            2. APL dikuasai oleh investor

Arah kebijakan dan Strategi dari Pemerintah Kampung Maluang, berdasarkan kolom kombinasi dua point Analisis SWOT :

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dengan bekerja dengan pemerintah daerah.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Bekerja sama dengan Dinas PU/DLH untuk memperbaiki jalan usaha tani.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Membuat Peraturan Kampung untuk melindungi pihak-pihak luar yang mengancam aset-aset APL yang dikelola warga Kampung

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Mulai melakukan advokasi dan edukasi tentang pembuatan sertifikatikasi  tanah (SHM) secara gratis bekerja sama dengan BPN ( BAPPEDA) dan fasilitasi dari Pemerintah Kampung untuk mengimbau kepada warga agar jangan terlalu mudah menjual tanah kepada pihak luar *)

*) : Tanggapan  dari Any Sundari selaku mentor visual dan salah satu peserta dari Pemeritah Desa Sungai Payang, yaitu Bapak Rusdin.  

Peserta Kedua, pemamparan lembar Analisis SWOT dari Pemerintah Kampung Tanjung Batu.

Kekuatan :

  1. SDA : Pariwisata, Pertanian, dan Kemaritiman

Kelemahan :

  1. Belum ada listrik PLN dan Air Bersih
  2. Jalan poros belum diaspal
  3. Belum maksimal BUMK
  4. Jalan kampung belum di cor
  5. Masih banyak wisata alam terkelola dengan maksimal

Peluang :

  1. Lahan subur untuk Pertanian
  2. Pembangunan TPI

Ancaman :

  1. Persoalan Listirk
  2. Persoalan Air Bersih

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Kerja sama dengan Dinas PU dan Dinas Pertanian  Kabupaten/Provinsi untuk pembangunan TPI dan meningkatkan kapasitas skill petani.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Kerja sama dengan PLN,  PDAM dan Dinas PU  agar semua Kampung teraliri listrik,  air bersih, dan pengaspalan jalan poros.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Untuk memaksimalkan potensi SDA segera bekerja sama dengan PLN dan PDAM untuk mengaliri listrik dan air bersih  di kawasan pariwisata

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Kerja sama saling menguntungkan dengan Pemerintah Daerah, Swasta untuk pengadaan listrik dan air bersih.

Tanggapan dari Muhammad Zidny Kafa : akan lebih baik lagi, kalau pengisian data Analisis SWOT lebih didetailkan lagi. Sehingga ketika dimasukkan kolom-kolom penggabungan dua analisis lebih akurat dan lebih kaya.

Peserta ketiga, pemaparan dari Pemerintah Kampung Tanjung Batu.

Kekuatan :

  1. SDA melimpah  : pertanian (dominan)
  2. SDM dan pengelola lembaga-lembaga Kampung sudah berjalan
  3. Adanya Pelabuhan

Kelemahan :

  1. SDM Aparat desa rata-rata SMA dan sedikit S1
  2. Belum adanya TPA dan minimnya petugas kebersihan

Peluang :

  1. Perusahaan Kelapa Sawit bekerja sama dengan masyarakat mengelola plasma
  2. Penanaman pohon mangrove
  3. LSM Mangrove
  4. Masuknya Peti kemas
  5. Platform digital

Ancaman :

  1. Abrasi pantai
  2. Kerusakan pohon mangrove

Kolom A. Kekuatan-Peluang :

  • Kerja sama dengan Dinas Perikanan dan Dinas Pariwisata  Kabupaten/Provinsi untuk pembangunan pengelolaan pelabuhan,  dan pengelolaan wisata magrove.

Kolom B. Kelemahan-Peluang :

  • Peningkatan Kapasitas Building Aparatur desa yang masih baru melalui Diklat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah/Provinsi, misalnya Dinas PMD.

Kolom C. Kekuatan- Ancaman :

  • Melibatkan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaga Kampung untuk mencegah kerusakan lingkungan, abrasi pantai dan kerusakan pohon mangrove

Kolom D. Kelemahan-Ancaman :

  • Memaksimalkan wisata mangrove sebagai pusat edukasi pelestarian lingkungan

Tanggapan  dari Any Sundari : Perlu melibatkan generasi muda dan anak-anak, untuk mengedukasi dalam proses pelestarian lingkungan, seperti kerusakan mangrove akibat pembuangan sampah yang sembarangan. Karena pelestarian lingkungan, karena pohon mangrove dapat mencegah abrasi pantai.

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 10 sesi kedua Pelatihan dan pedampingan Akademi Kampung Sigap Kabupaten Berau, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dilaksanakan Kamis, 01 April 2021 pukul 12.30 -15.30 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo (Koko) dan Any Sundari, serta bertindak sebagai narasumber Sholahuddin Nurazmy, CEO pasardesa.id.

Melanjutkan review materi Senin kemarin (29/03/2021), peserta memaparkan terkait penugasan yang telah diberikan oleh narasumber. Peserta masih mempresentasikan unit usaha yang kemudian di seleksi dengan beberapa pertanyaan saringan legal, passion, pasar dan bisnis, seperti kemarin :

Pemaparan pertama dari BUMK Rumpun Jaya Mandiri, terkait unit usahanya :

  1. Toko Bahan Bangunan

Legal : sudah ada di atur dalam AD/ART

Passion : Pernah bekerja sama dengan PUPR, dalam program BPPS, menunjuk salah satu CV

Pasar : Masyarakat dan Pemerintah Kampung, belum kompetitor sejenis

Bisnis : menunjuk salah satu CV

  • Agen Gas LPJ  : 3 kg

Legal : syarat menjadi agen ternyata cukup berat

Passion : hanya cocok hanya menjadi pangkalan bukan agen, tetapi tidak boleh mematikan usaha masyarakat yang sejenis

Pasar : target yang ditetapkan 1.200 tabung gas oleh agen terlalu berat. Target masyarakat dan luar Kampung.

Bisnis : Produk mengalami penguapan. Modal : 125 .000.000/perbulan

  • Toko Tani *)

Legal : sudah masuk di AD/ART

Passion : Sebagian besar masyarakat sebagai petani

Pasar : bisa memperpendek jalur distribusi pupuk pertanian.

  • Peternakan Ayam petelur

Legal : sudah masuk di AD/ART

Passion : Masyarakat sudah mengelola usaha masyarakat dalam lingkup kecil

Pasar : Ada peluang usaha di bidang peternakan ayam telur

  • Unit Air Minum Kampung*)

Legal : sudah ada di AD/ART

Passion : Bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengadaan pipa.

Pasar : Ada kompetitor PDAM masuk

Bisnis : mampu membayar gaji dan membayar maintenance alat

Tanggapan dari Sholahuddin, selaku narasumber : selain empat saringan, perlu dilihat dari saluran rantai pasok terkait Unit Usaha  Saprodi. Bahan baku saprodi lebih fokus apa? Pupuk Pabrikan yang diterbitkan lewat Kartu Tani. Selama ini, di dapat di toko RDKK yang jaraknya sangat jauh. BUMK kulakan, jual ke warga.  Terkait bahan baku : perlu mencari pihak-pihak yang memutus banyak jalur distribusi, sehingga dapat harga murah.Revisi Nama dari Unit Saprodi menjadi Toko Tani *). Untuk Bahan Baku Air Minum Kampung, dari Kampung Melati Jaya yaitu dari sungai mengalir bukan dari Bendungan. Perlu komunikasi dan koordinasi BUMK  dan pihak PDAM. Karakternya adalah jasa. Valuenya terkait ketepatan dan kecepatan. Model Bisnis adalah iuran masyarakat. Lebih banyak benefit daripada profit, karena menguasai hajat hidup orang banyak. Yang jelas jangan sampai merugi.

Peserta kedua dari BUMK Surya Jaya Abadi, memaparkan ide usaha.

  1. Unit Suplier Material Bangunan, di seleksi dengan beberapa pertanyaan saringan-saringan legal, passion, pasar dan bisnis

Setiap Kampung mempunyai kegiatan fisik.Tidak melanggar hukum (legal). Apakah usaha ini benar-benar anda inginkan? Iya. Apakah ada yang menghalangi bisnis anda? Ada, supplier luar Kampung. Bagaimana bisnis itu menghalangi bisnis anda? Persaingan harga. Bagaimana anda bisa mengatasi usaha ini? Pemberdayaan BUMK sendiri oleh intervensi Pemerintah Kampung. Berapa besar ukuran pasar? Cukup luas.Seberapa dekat pasar dengan produk kita? Bahan sudah sering digunakan oleh Pemerintah Kampung. Seberapa jaminan kesuksesan usaha anda? Jaminan Anggaran dari Pemerintah Kampung. Apa fonemana yang terjadi di pasar? Kelangkaan material pada bulan-bulan tertentu dan harganya tinggi. Apa saja segmen pasar berbeda? Dapat Suplai ke warga, atau kerja sama dengan kontraktor. Margin yang diinginkan? Sesuai kemampuan BUMK mensuplai bahan material bangunan.Seberapa besara bangunan yang dibutuhkan? Tidak butuh tempat tanah kosong. Apa barang dibutuhkan ?Sudah pasti dibutuhkan. Masalah apa yang dihadapi? kelangkaan dan kenaikan harga. Hal perlu disiati dengan menstok barang-barang tertentu. Modal awal 250.000.000. Seberapa efisien bisnis anda? Cukup sederhana jadi sangat efisien. Sarana dan prasarana cukup mendukung. Transportasi dengan bekerja sama dengan warga yang memiliki kendaraan dengan sistem sewa. Bagaimana keadaan keuangan BUMK? Cukup bagus. Apa sudah waktunya Kampung untuk menjalankan usaha ini? Iya , sudah waktunya. Karena sudah ada jaminan keuangan (dana).

Tanggapan dari Sholahuddin, selaku narasumber :  Terdapat material lokal yang perlu dieksplor, desain dan kearifan lokal. Perlu edukasi terkait jenis pembangunan, tidak melulu pada desain kekinian, tetapi akan lebih menarik ketika melakukan pembangunan lokal, misal desain rumah adat. Artinya material lokal tidak hanya di suplai ke kampung tetapi material lokal bisa diekspor ke luar Kampung. Misalkan dengan penawaran desain bangunan tropis ramah lingkungan dengan material kayu bukan melulu semen.  

Tambahan dari Any Sundari, selaku mentor virtual : belajar dari Panggungharjo, berinovasi dan mengambil risiko usaha, misalnya dengan pilihan Kampoeng Mataraman. Unit Usaha Wisata Kuliner Edukasi. Padahal Panggungharjo tidak memiliki bentang alam, tetapi dengan potensi sosial budaya yang masih kuat (JUNAEDI – YSID).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *