Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 5 :

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 5 hanya satu sesi saja, dilaksanakan Senin, 15 Maret 2021 pukul 12.00 -15.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh dua mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Joko Hadi Purnomo – biasa dipanggil Koko – dan Any Sundari. Serta bertindak sebagai nara sumber adalah Eko Pambudi, dari Bumdes Panggung Lestari, dengan topik masih seputar Analisa SWOT. Hadir pula, Adhit Mahendra Putra selaku Manager Program dalam Program Pelatihan dan Pendampingan Akademi Sigap 2021.

Analisa SWOT lebih difokuskan kepada unit usaha BUMDes atau BUMK. Masing-masing BUMDes/BUMK lebih mengeksplor tentang unit usaha, permasalahan yang dihadapi dan strategi menjalankan usahanya. Peserta pertama, bernama Hermawan, dari BUMK Bugisunan, menceritakan bahwa BUMKnya mempunyai unit usaha terdiri dari : Wisata Mangrove, Jasa Simpan Pinjam, dan Pasar. Tetapi ada kendala sejak adanya pandemi Covid-19 wisata mengalami tutup untuk sementara.

Peserta Kedua, Doni dari BUMK Lebok Asik, mengeksplor unit usaha BUMK terdiri dari : Usaha Ternak Sapi, Wisata Peminat Khusus, Air Bersih, dan POM Mini. Kendala yang dihadapi untuk Wisata Alam tutup sementara akibat adanya pandemi Covid-19, saat ini baru pembenahan infrastruktur (penginapan). Sementara untuk POM Mini masih mengalami kendala dalam hal perijinan dan jauhnya akses jalan ke Kampung. Sedangkan untuk Ternak Sapi berdasarkan musyawarah dengan Pemerintah Kampung dan BPK, memutuskan untuk meneruskan usaha ternak sapi dan akan bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Timur. Secara progres unit usaha air minum mengalami kenaikan omset yang semula omset 2.000.000/bulan menjadi 7.000.0000/bulan.

Peserta ketiga, Bukhori dari BUMK DKI Manis, hanya menyebutkan satu unit usaha yang berjalan yaitu Unit Simpan Pinjam dan berencana akan membentuk Unit Saprodi. Peserta selanjutnya, Haryani dari BUMK Teluk Semanting mengeksplor unit usaha BUMKnya yang terdiri dari : Unit Penjualan Amplang dan Kerupuk, Unit Pariwisata,  Unit Penyewaan Tarub. Terkait kendala yang ditemui untuk unit penjualan Amplang dan Kerupuk adalah terkait kemasan produk dan labelisasi halal. Sementara untuk unit pariwisata terkendala terkait penentuan besaran tarif, akhinya pengelola berinisiatif kotak retribusi – semacam kotak infaq seikhlasnya – yang ditaruh di depan pintu masuk, untuk saat ini tutup sementara karena adanya pandemi Covid-19.

Peserta selanjutnya , dari BUMK Labanan Makmur, memaparkan satu unit usaha BUMKnya yaitu Peternakan Ayam Petelur. Kendalanya adalah mahalnya harga pakan dan SDM yang menangani peternakan ayam petelur. Oleh karena itu, BUMK ini akan melebarkan sayapnya dengan membentuk unit baru yaitu Unit Pengolahan Pakan Mandiri, harapannya memperoleh harga pakan yang lebih murah dan pemberdayaan kepada warga masyarakat untuk mengolah hasil pertanian warga.

Menurut Zulfikar, dari KampungTembudan, menuturkan beberapa unit usaha BUMK yang terdiri dari : Unit Wisata Danau, Unit Usaha Batik, Unit Usaha Outlet. Untuk mendukung usahanya pengelola melakukan strategi dengan menggunakan aplikasi dalam melaporkan administrasi dan keuangan serta melakukan peningkatan kapasitas  seperti pelatihan pelatihan sablon. Karena kondisi pandemi Covid-19 untuk semua usaha tidak berjalan atau tutup sementara.

Menurut Jumono, dari BUMK Mandiri Jaya Abadi, menyampaikan dua unit usaha BUMK ini yaitu Unit Simpan Pinjam dan Unit Lapak (Pasar). Kendala yang dialami untuk untuk simpan pinjam adalan banyaknya yang meminjam daripada yang menyimpan, pengajuan pinjaman terlalu besar. Untuk unit lapak terkendala adanya pandemi Covid-19, penyewa lapak mengundurkan diri. Strategi yang akan dilakukan akan menambah modal usaha unit simpan pinjam, sedangkan untuk mengantisipasi pedagang yang pada mengundurkan diri, apabila tidak ada yang berminat menyewa lapak-lapak akan digunakan sendiri oleh BUMK.

Sementara menurut Harman, dari Batiwakal, mengeksplor unit usaha BUMKnya yang terdiri dari : Unit Pengelolaan Pasar, Unit Pengelolaan Sampah, Unit Pengadaan Barang dan Jasa, Unit Kerajinan Kayu dan Unit Usaha Batik. Kendala yang dihadapi untuk unit kerajinan kayu mesin-mesin yang digunakan menggunayakan daya listrik yang besar, sementara listrik yang ada belum mampu untuk mengalirkan daya listruk yang dibutuhkan. Sementara untuk usaha batik BUMK hanya reseller (menjualkan) dari produk batik yang ditekuni oleh ibu-ibu PKK.

Pemaparan oleh Maesaroh, dari Labanan Makmur, menyebutkan ada tiga unit usaha BUMK nya yang ia ketahui, yaitu Unit Pengelolaan Pasar, Unit Pengelolaan Sampah dan Unit Penyewaan Gedung Serba Guna. Kendala utamanya adalah terkait struktur organisasi BUMK.

Dewi Kartika Sari, dari Harapan Jaya, memaparkan unit usaha BUMKnya yaitu terdiri dari Unit Usaha Pasar, dan Unit Usaha Pertanian. Dalam penentuan unit usaha mereka lakukan dengan melihat potensi desa, kebutuhan masyarakat, dan sinkronisasi usaha dengan potensi desa dan kebutuhan masyarakat.

Eko, menanggapi pemaparan dari semua peserta dengan menggaris bawahi bahwa strategi apa yang akan dilakukan oleh BUMK untuk tetap eksis di tengah pandemi Covid-19, perlu skala prioritas unit mana yang perlu di push. Dengan pendekatan alat Analisis SWOT harapannya dapat memetakan potensi desa dan mengurangi risiko bisnis yang tidak kita inginkan. Dalam menentukan usaha, agar mampu bersaing dengan kompetitor yang sejenis yang membedakan kita adalah pada value atau nilai produk.

Menurut Aditya Mahendra Putra, bahwa desain Pelatihan dan Pedampingan Akademi Sigap 2021 disesuaikan konteks yang dihadapi oleh BUMDes/BUMK. Metode yang pertama menggunakan Analisis SWOT, kemudian nanti nantinya banyak metode untuk mengoptimalkan jenis uasha yang dijalankan setelah di analisa. Ada alat yang digunakan selanjutnya, seperti 3P, SCAMPER. Ia menggaris bawahi, usaha yang tidak dapat dilakukakan dengan mengedepankan instiusi bisnis, tetapi instiusi ini harus di validasi terlebih dahulu secara komprehensif. Termasuk skala risiko yang meliputi risiko operasional dan risiko keuangan.

Any Sundari, menambahkan dengan mempertanyakan apakah dasar yang digunakan oleh BUMK dalam menentukan usahanya? Apakah hanya menggunakan insting bisnis saja ataukah sudah melakukan studi banding dengan mengamati usaha serupa di tempat lain.

Di akhir acara ini, Koko menyimpulkan bahwa dari pemaparan dari semua BUMDes/BUMK dalam menjalankan usaha/bisnisya belum ada yang menggunakan alat evaluasi berupa Analisis SWOT (JUNAEDI, YSID).

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 5 bagi Pemerintah Kampung atau Pemerintah Desa, mundur dilaksanakan yang seharusnya Senin, 15 Maret 2021 diundur Selasa, 16 Maret 2021 pukul 08.30 -12.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh dua mentor virtual  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Muhammad Zidny Kafa – biasa dipanggil Zidny – dan Any Sundari. Serta bertindak sebagai nara sumber adalah Muhammad Hosni Bimo Wicaksono, dari Kamituwa Pemerintah Kalurahan Panggungharjo, melanjutkan topik sebelumnya, yaitu pemetaan bentang . Dalam webinar sebelumnya telah disampaikan tiga macam bentang yaitu bentang alam, bentang sosial-budaya dan bentang ekonomi. Selanjutnya pada sesi kali ini, meneruskan empat bidang sisanya, yang terdiri dari bentang lingkungan, bentang teknologi, bentang pasar, dan bentang SDM.

Menurut Bimo –panggilan akrab Muhammad Hosni Bimo Wicaksana – bentang lingkungan dapat digali dengan beberapa pertanyaan kunci, seperti :”Bagiamana pengelolaan sampah dan limbah yang ada?, Bagaimana ketersediaan air untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga?, Apakah dampak usaha bagi  lingkungan?

Lebih lanjut ia memaparkan untuk bentang tekonologi dapat digali melalui beberapa pertanyaan kunci sebagai berikut : “Apa saja sumber energi yang tersedia?, Bagaimana cara masyarakat memenuhi kebutuhan energi tersebut?, Adakah teknologi pasca panen?, Adakah bengkel inovasi teknologi tepat guna?”

Ia menambahkan sedangkan bentang pasar dapat di peroleh dengan beberapa pertanyaan kunci, seperti : “Siapa saja calon pengguna dari produk barang /jasa yang hendak dilakukan dan ada berapakah jumlahnya?, Siapa saja kompetitor yang menjalankan usaha dalam wilayah yang sama?, Berapa luas jaringan dari kompetitor kita?”

Masih menurut Bima, yang terakhir adalah bentang SDM. Bentang SDM ini dapat dipetakan melalui beberapa pertanyaan kunci pula, yaitu : ”Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang teknis?, Adakah SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang manajemen?, dan Adakah SDM yang mempunyai kompetensi dalam bidang rekayasa sosial?”

Kemudian semaua peserta mempresentasikan pemetaan bentang. Adapun hasil pemetaan bentang para peserta, tidak dapat dituliskan disini dikarenakan terlalu panjangnya pemetaan bentang dari para peserta yang lebih kepada data monografi desa.

Terkait hasil pemetaan potensi bentang para peserta ini, Any Sundari selaku mentor mengkritisi terkait perbedaan antara pemetaan bentang dengan data monografi desa. Bahwa data monografi sebagai salah satu sumber dari pemetaan bentang memang betul, tetapi pemetaan berdasarkan bentang yang telah dilakukan oleh suatu tim harus dibukukan tersendiri menjadi dokumen perencanaan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Desa atau Pemerintah Kampung yang berdasarkan skala prioritas dan mitigasi bencana (JUNAEDI, YSID).