Berita

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 4 : analisa SWOT

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Webinar seri 4 sesi pertama, sebagai kelanjutan seri 3  Senin kemarin, 8 Maret 2021, dilaksanakan Kamis, 11 Maret 2021 pukul 09.00 -11.00 WIB. Kegiatan Webinar kali ini, masih dipandu oleh Mohammad Hosni Bimo Wicaksono Selaku Kamituwa Kalurahan Panggungharjo sebagai nara sumber, dua mentor virtual lainya  dari  Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yaitu Mohammad Zidny Kafa dan Any Sundari.

Pada Sesi pertama kali ini, tidak ada pemamparan materi dari nara sumber,  Bimo –sapaan akrab – dari Mohammad Hosni Bimo Wicaksono,  hanya memberikan feed back terhadap dua orang masing-masing dari Kampung Melati  Jaya, dan dari Kampung Sungai Payang yang mempresentasikan apa yang menjadi penugasan sesi sebelumnya, yaitu membuat Sketsa Desa.

Menurut presentasi yang disampaikan dari Kampung Melati Jaya, tentang Sketsa Desa atau Kampung. Penduduk kurang lebih 500 Kepala Keluarga, Pendidikan sebagian besar tamatan SD, lulusan S1 (Sarjana) keluar kampung. Mata pencaharian warganya sebagian besar bertani dan perkebunan. Hasil tanamannya adalah lada dan padi. Pemuda sebagian besar bekerja pada perkebunan. Mempunyai bangunan fisik dianataranya masjid, gereja, perkantoran (Pemerintah kampung), sekolah, lapangan sepak bola. Fasilitas PLN sudah masuk tetapi belum adanya PDAM. Belum memiliki pasar, maka mendorong BUMK untuk mengelola hasil pertanian lada, karena hasil panen ada saigannya yaitu para tengkulak. Hasil Padi belum begitu maksimal. Sudah ada 13 Kelompok Tani yang sudah berakta notaris, dan gapoktan. Dari sisi sosial budaya terdiri dari 5 Suku, yaitu Jawa, Bugis, lombok, NTT, dan Sunda. Terkait agama ada 3 agama, yaitu Islam, Kristen dan Katholik.

Sedangkan presentasi yang disampaikan dari Kampung Sungai Payang, tentang Sketsa Desa secara lebih rinci ada infrastruktur yaitu jalan-jalan yang sudah bagus, Sekolah (PAUD, SMP,SMA), Masjid, gereja. Ada kendala terkait bangunan rumah warga yang terlalu mepet jalan, dan ini menjadi PR akses perencanaan jalan ke depan. Sebagian besar alamnya berupa persawahan, Sungai-sungai. Listrik (PLN) sudah masuk kampung, terjadi PDAM belum ada . Penduduk terdiri dari kurang lebih 400 Kepala Keluarga.Pendidikan warganya sebagian besar adalah tamatan SD dan SMP. Mata Pencaharian warga sebagian besar berladang. Ada beberapa aktivitas perusahaan sawit dan perkebunan, dan pertambangan. Sudah memiliki pasar malam setiap malam Minggu. BUMDesnya mempunyai 13 Unit usaha yang sudah beromset diatas Rp 7 milyar dalam setahun, dengan keuntungan diatas Rp 600 juta. Kendala BUMDesnya adalah ada beberapa unit usaha BUMDes, mandegnya pembangunan Pabrik Kompos. Dari sisi sosial budaya terdiri dari 5 Suku, antara lain Kutai, Dayak (Tanjung dan Benua), Banjar, Bugis dan Jawa.

Menanggapi dari Kampung Melati Jaya, Bimo menambahkan dalam membuat sketsa desa harus lebih detailkan lagi termasuk akses jalan, batas-batas wilayah. Apakah  ada bangunan yang menunjang kesehatan. Sedangkan untuk  Kampung Sungai Payang, sudah bagus.

Muhammad Zidny Kafa, menambahi terkait sketsa desa, kalau merujuk Permendagri Nomor 114  Tahun 2014, dapat dilihat dari tiga faktor yaitu sketsa desa, kalender musiman dan bagan kelembagaan. Semua yang bisa diceritakan terkait Kampung di tuliskan dalam lembar kerja.

Sedangkan menurut Any Sundari, sketsa desa tidak hanya dilihat dari secara fisik saja, tetapi non fisik harus dilihat semuanya jangan ada yang terlewatkan. Any, juga menyoroti apakah di Kampung Melati Jaya, sudah ada perhutanan sosial.

Sesi Kedua

Sesi kedua – dilaksanakan pada hari yang sama – pada hari Kamis, 11 Maret 2021 :  jam  12.00 – 14.00 WIB, di dampingi oleh Eko Pambudi juga di fasilitasi dua mentor virtual dari Yayasan Sanggar Inovasi Desa, yaitu Joko Hadi Purnomo dan Any Sundari, presentasi materi analisa SWOT.

Presentasi pertama, dari BUMDes DKI Manis, Karangan Ilir.

  1. Kekuatan
  2. Dukungan Pem Des, BPD dan masyarakat
  3. Peliabatan pengelola BUMDes/BUMK dalam kegiatan desa
  4. Ada dukungan dana desa
  5. Pelibatan Pem Des dalam proses kegiatan BUMDes/BUMK
  6. Kelemahan
  7. Minimnya frekuensi pertemuan/ rapat
  8. Rendahnya kapasitas pengelola BUMDes/BUMK
  9. Pengelola BUMDes belum totalitas dalam menjalankan usaha BUMDes
  10. Ketidak aktifan pengelola BUMDes/BUMK
  11. Belum adanya SOP
  12. Belum jelasnya pembagian tugas, fungsi dan wewenang pengelola
  13. Kurang fahamnya pengelola BUMDes/BUMK dalam menyusun AD/ART BUMDes/BUMK
  14. Peluang
  15. Potensi usaha yang dapat dikembangkan yaitu Potensi Wisata Alam
  16. Usaha yang dapat mendukung adanya Perusahaan Sawit
  17. Budi daya sayur dengan cara Hidroponik
  18. Pembangunan Instalasi Air Minum
  19. Kemungkinan kerja sama dengan pihak ketiga (investor)
  20. Galeri usaha (outlet) untuk oleh-oleh bagi wisatawan
  21. Ancaman
  22. Adanya Pandemi Covid-19
  23. Daya beli masyarakat yang menurun
  24. Perubahan Kebijakan Kepala Desa/Kampung yang baru
  25. Kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes/BUMK menurun
  26. Adanya konflik kepentingan antarpengurus BUMDes/BUMK
  27. Tidak ada aturan yang mendukung program BUMK
  28. Adanya kompetitor yang sama bidang usaha BUMK

Dan akhirnya, hasil presentasi BUMDes DKI Manis, menjadi bahan untuk berdiskusi  semua BUMK  dan hasil analisa diatas adalah hasil analisa SWOT kolektif peserta webinar.

Eko Pambudi menggaris bawahi, bahwa dengan belajar analisa SWOT bagi pengelola BUMK  kesimpulan bahwa kita menjadi tahu apa kekurangan atau yang belum dilakukan oleh BUMK yang kita jalankan selama ini. Apabila ada peluang untuk mengembangkan BUMK ke depannya, maka selanjutnya membuat proposal dan analisa kelayakan usaha, yang akan kita ajukan kepada Pem Kam.  (JUNAEDI, YSID).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *