Berita

Pendampingan Implementasi Akademi Kampung SIGAP Hari ke- 3 : Totalitas Menciptakan Profesionalitas

Kampoeng Mataraman, Bantul – DIY,  Pendampingan hari ke-3 di sesi pertama, tentang Identifikasi Permasalahan dan Pemetaan Potensi Kampung  – di lakukan pada hari Senin, 8 Maret 2021 pukul 08.30 -11.30 WIB. Kegiatan pendampingan ini sebagai  rencana tindaklanjut dari hasil asesmen yang dilakukan oleh Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) untuk pengimplementasian Akademi Kampung SIGAP Kalimantan Timur.

Pada Sesi pertama hari ini, bertindak narasumber adalah Hosni Bimo Wicaksono, Kasi Pelayanan – yang menurut nomenklatur terbaru menjadi  “Kamituwa” – Pemerintah Kalurahan  Panggungharjo. Dalam pemaparannya Bimo menjelaskan tentang pemetaan potensi kampung dengan pemetaan bentang, yaitu terdiri dari pemetaan bentang alam, bentang sumber daya manusia, dan  bentang ekonomi.

Sedangkan terkait sketsa desa (profil desa) untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi , kita harus menampung semua masalah yang dihadapi  (belanja masalah) terkait adanya pandemi Covid-19 dan sekaligus penyesuaian pemetaan potensi kembali pasca adanya pandemi Covid -19, penyesuaian pemetaan potensi ini untuk lebih mengutamakan yang menjadi skala prioritas utama yang harus dilakukan pemerintah Kampung pasca pandemi Covid-19.

Selain narasumber, kegiatan pendampingan dan pelatihan mata latih ini di fasilitasi oleh Muhammad Zidni Kafa dan Any Sundari. Walaupun terkendala teknis terkait jaringan internet yang dialami oleh beberapa peserta pendampingan tetapi peserta menunjukkan antusiasnya, terbukti dengan tanggapan terhadap materi yang disampaikan oleh Bimo Wicaksono. Dan beberapa Pemerintah Kampung menyampaikan pengalaman yang selama ini dilakukan dalam mengurus Kampungnya masing-masing, seperti yang disampaikan oleh Poli Carpus wakil dari Pemerintah Kampung Tempudan. Menurutnya, bahwa sebelum menjadikan Kampung Tempudan menuju Ekowisata (ecotourism) ada beberapa aspek yang menginspirasi terbentuknya Kampung Tempudan menjadi Kampung Wisata. Diawali dengan survei terkait SDA dan SDM melalui musyawarah mufakat akhirnya sepakat menjadikan Kampung Tempudan menjadi Kampung Ekowisata . Selanjutnya dari hasil survey di lanjutkembangkan dengan fasilitasi oleh lembaga NGO bersama dengan tim sebelas dan didokumentasikan menjadi dokumen perencanaan RPJMKam. Terkait potensi ekowisata yang terkenal adalah wisata telaga biru. Terkait potensi-potensi lain yang dimiliki Kampung Tempudan adalah Pertanian, sebagian besar warga menanam jagung dan sawit.

Sementara menurut peserta lainnya, Murjani dari Kampung Melati Jaya, menyampaikan terkait sejarah kampung pada tahun 1993 yang berlatar belakang eks transmigran, oleh karena itu sebagian potensinya adalah pertanian, hal ini sesuai dengan RPJMK tahun 2016-2021. Menurutnya, Kampungnya tidak begitu terdampak oleh adanya pandemi Covid-19 karena tidak memiliki potensi pariwisata.  Akan tetapi ada permasalahan terkait alokasi BLT 2021 dikarenakan untuk tahun 2021 berbeda dengan 2020, yang semula ada alokasi dari BLT Daerah tetapi selanjutnya tidak ada alokasi BLT Daerah pada tahun 2021 dan harus diambilkan dari BLT DD.

Cerita berbeda disampaikan oleh Kepala Desa Sungai Payung bahwa dalam penyusunan RPJMDes  dilakukan kajian oleh Tim 11, dengan pemetaan potensi yang dimiliki yang dapat di intervensi oleh dana desa. Potensi yang dimiliki dalam bidang pertanian, Ketrampilan Kerajinan Tangan, Peluang untuk tenaga kerja di perusahaan-perusahaan, pembangunan pabrik kompos, adanya embung desa, wisata buatan, terkait semua usaha diserahkan kepada  BUMDes.  Ada juga potensi yang tidak dapat diintervensi  oleh dana desa, yaitu pertambangan dan perhutanan. Terkait pertambangan sebetulnya masih ada peluang terkait pemenuhan tenaga kerja, laundry, housekeeping dan pemenuhan air bersih.

Sementara menurut Pemkam Karangan Ilir, pemetaan potensi dari dari bentang alam, yaitu berupa hutan dan bentang kekhasan (wisata khas), perkebunan (tanaman kakao, sawit, lada), persawahan, perikanan. Adapun kendala yang dihadapi adalah kompetitor lain(tengkulak), dalam perikanan harga pakan ternak yang terlalu tinggi. Upaya yang sudah dilakukan terkait ada pandemi Covid-19, yaitu dengan membentuk Tim Kampung Tangguh, dengan pendekatan pada 4 aspek antara lain : 1).Kesehatan 2). Edukasi 3). Sosial 4).Ekonomi.

Sementara menurut mentor/fasilitator Any Sundari, perlu pemetaan ulang potensi desa dari aspek krisis, dengan berpikir cepat dan tepat  tentang apa saja yang hari ini sudah salah kita lakukan harus dengan reaksi cepat harus diubah langsung. Juga perlu ditanamkan kepada semua stakeholder  untuk melakukan perubahan  atau adaptasi kebiasaan baru pasca pandemi Covid-19. Belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Desa Panggungharjo, dalam masa pandemi berumur  1 bulan diumumkan, muncul ide-ide atau inovasi sampai terselenggaranya Kongres Kebudayaan Desa.  Terkait inovasi pasca pandemi Covid-19 yaitu menciptakan ruang-ruang baru dan jejaring baru.

Sesi Kedua

Pada pendampingan hari ke-3 dilaksanakan pada pukul 12.00-14.30 WIB, dengan narasumber Eko Pambudi, dari BUMDes Panggung Lestari Kalurahan Panggungharjo, dengan materi Tata Kelola BUMDes. Menurut Eko Pambudi, dalam tata kelola BUMDes ada lima  Prinsip yang harus di jalankan oleh BUMK atau BUMDes, yaitu : 1). Transparansi 2). Kemandirian 3). Akuntabilitas 4). Pertanggungjawaban 5). Kewajaran. Masih menurutnya untuk sebuah tata kelola BUMK atau BUMDes yang baik dan benar, diperlukan beberpa prasyarat, antara lain : 1). Sinergitas antar pengurus, antar manajemen atau pengelola dengan karyawan 2). Akuntabilitas dan transparansi, terkait pencatatan dan pertanggung jawaban laporan keuangan 3). Totalitas semua pengurus, tidak ada pengelola yang mendua artinya tidak ada yang punya side-job selain hanya fokus untuk BUMK atau BUMDes. Lebih detail lagi dijelaskan bahwa Sinergitas itu  terintegrasi oleh lingkaran Tata Kerja yang terdokumentasi melalui firm infrastruktur standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur di dalamnya adanya hak, kewajiban, fungsi, peran dan wewenang masing-masing pengelola BUMK atau BUMDes. Totalitas dari pengelola akan menciptakan profesionalitas yang harus di dukung oleh pemenuhan hak yang jelas dan terukur melalui sistem REMUNERASI. Dari sinilah maka pengelola akan bergerak cepat dan tepat yang akan menciptakan kreativitas dan inovasi baik dalam tata kelola dan kelembagaan maupun unit usaha. Setelah pemaparan materi sesi selanjutnya adalah tanya jawab.

Dari semua peserta yang bertanya maupun sharing pengalaman dari peserta, ada beberapa hal catatan yang perlu menjadi bahan bagi Yayasan Sanggar Inovasi Desa dalam melakukan pelatihan dan pendampingan secara virtual.  Adapun beberapa catatan adalah :

  1. Pengelola BUMK cenderung main aman dan nyaman, walaupun baru mengelola satu unit usaha saja.
  2. Pertemuan rutin mingguan untuk mengevaluasi kinerja pengelola hampir tidak pernah dilakukan, rapat hanya dilakukan ketika akan membahas strategi pengembangan unit saja.
  3. Sistem penggajian belum menggunakan sistem penggajian yang terukur dan terarah, misal dengan analisa beban kerja. Bahkan ada yang hanya pemberian insentif tiap bulannya belum gaji secara utuh.
  4. Dalam penyusunan, alokasi pembagian SHU masih tercampur, belum ada pemisahan antara biaya operasional. Jadi biaya operasional masih dimasukkan dalam presentase pembagian SHU.
  5. Ada beberapa ketua BUMK yang mendua, artinya bekerja di BUMK hanyalah sampingan tidak berdasarkan totalitas dan loyalitas terhadap BUMK.

Di akhir sesi ada penugasan dan sedikit penjelasan tentang apa itu Analisa SWOT, yang disampaikan oleh Joko dan Any Sundari. Kemudian peserta pendampingan diberi penugasan untuk pertemuan Kamis mendatang (JUNAEDI, YSID).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *